Kilas Balik : Sociolecture HMTM “PATRA” ITB

Pada hari Minggu tanggal 1 Oktober 2017 kemarin telah dilaksanakannya kegiatan Sociolecture dengan mengundang 2 pembicara, yaitu Kak Ajeng dan Kang Kampret. Kak Ajeng duluya merupakan pengajar muda dari Indonesia Mengajar (IM) yang ditempatkan di daerah Paser, Kalimantan Timur. Sedangkan Kang Kampret sendiri merupakan Program Director di ICSD-B dan sekaligus menjadi Dosen SBM untuk matakuliah yang mempelajari masyarakat.

Kak Ajeng banyak bercerita mengenai pengalamannya menjadi Pengajar Muda IM di Kalimantan Timur. Selama setahun Kak Ajeng menetap di sebuah desa kecil di Kaltim untuk mengajar di SD desa tersebut. Ternyata meskipun program utamanya adalah mengajar anak-anak SD, namun kak Ajeng juga membantu masyarakat desa tersebut melalui berbagai kegiatan seperti pelatihan guru, mendorong kegiatan karang taruna, dan mengaktifkan kembali kegiatan di Masjid Desa. Program yang Kak Ajeng bawakan merupakan program yang berfokus pada perubahan perilaku dari masyarakatnya tersebut dengan cara menggerakkan masyarakat untuk merubah dirinya sendiri, sehingga diharapkan dapat sustainable. Selain di Indonesia Mengajar, Kak Ajeng dulu juga pernah mengikuti kegiatan ‘Universe Awareness’ dimana merupakan kegiatan menyiapkan SDM di NTT dalam rangka pendirian Observatorium di Kupang. Kak Ajeng mengajar mahasiswa dan siswa sekolah di sekitar tempat observatorium agar lebih aware terhadap pendidikan, khusunya mengenai antariksa.

Kang Kampret sendiri lebih banyak menjelaskan mengenai konsep dalam berpengmas bagi mahasiswa. Secara umum, pengabdian masyarakat dapat dibagi menjadi 3 bentuk, yaitu charity, service, dan empowerment. Bentuk charity ibarat mengisi perut secara langsung, artinya langsung memberikan barang dan jasa pada objek. Service lebih menekankan pada adanya added value yang diberikan dengan melibatkan masyarakat. Contoh dari service yang paling mudah adalah KKN. Bentuk empowerment lebih menekankan pada menggerakkan subyek untuk menyelesaikan sendiri permasalahannya. Urutan diatas tidak berarti pengabdian secara empowerment lebih baik daripada charity, bentuk tersebut hanya menekankan pada perbedaan masing — masing metode yang cocok untuk kondisi masyarakat. Menurut dia, mahasiswa dalam berpengmas justru lebih mendapatkan pembelajaran dari masyarakatnya daripada membantu masyarakatnya. Sehingga sense yang diperlukan adalah, ketika turun ke masyarakat kita tidak perlu membawa subjektivitas kita sebagai mahasiswa ke masyarakat, namun lebih pada kita ingin belajar dan mengenal ke masyarakat itu, sehingga kita dapat menentukan variabel yang tepat dalam memetakan kondisi masyarakat tersebut.

Secara umum, dalam menyelesaikan masalah tersebut, ada 3 kondisi umum yang dapat terjadi: Pertama, Masyarakat tidak mengerti tentang solusi yang kita berikan dan kita paksa untuk menerapkan metode kita, sehingga masyarakat akan ‘jatuh’ dan metode tidak maksimal. Kedua, masyarakat mengerti namun tidak siap untuk mengubah behavior mereka, sehingga metode yang diterapkan tidak akan sustain. Yang ketiga adalah masyarakat paham dan mampu menyesuaikan tingkah laku mereka dengan metode kita. Inilah yang seharusnya ditekankan, bahwa ketika kita sudah mengenal kondisi masyarakat, baru kita bantu melalui cara meng-empower masyarakat untuk mengubah dirinya sendiri, bukannya justru kita memberikan harapan ke masyarakat dan justru membuat posisi mereka semakin lemah. Seperti yang dicontohkan Kang Kampret melalui kegiatan di ICSD, dimana awalnya kang Kampret memberikan semacam ide membuat kincir dalam skala kecil dengan memanfaatkan barang yang ada. Ketika masyarakat telah paham konsep dari kincir, dan merasa dapat membantu mereka dalam mempermudah pekerjaan mereka, mereka akhirnya secara mandiri membuat kincir dalam skala besar dan langsung dipasang didekat tambak mereka.

Sesi Tanya Jawab:

Egi Adrian Pratama, Peran kita setelah adaptasi tidak berhasil bagaimana ?

– Tetap bertahan meskipun dalam kondisi bagaimanapun juga, namun jangan berupaya untuk memaksa warga yang belum tersadarkan dan yang belum tergerak

Fadly Erwil Prasetya, Dengan kondisi sistem ITB yang tidak mendukung turunnya mahasiswa ke masyarakat, apa yang harus kita lakukan?

– Sebenarnya jangan terlalu terpaku pada sistem yang ada, apabila kondisi ITB seperti itu, jangan dijadikan sebagai hambatan, tunjukkan karyamu melalui pengmas ini sehingga dapat mendorong sistem yang ada tersebut berubah.

Rafli Herdiansyah, Tokoh inspirasi Kak Ajeng ? Titik balik buat turun ke masyarakat?

– Anak-anak, karena mereka merupakan masa depan bangsa ini, titik balik ketika Kak Ajeng turun di NTT buat mengajar anak-anak NTT, disitu kak Ajeng melihat bahwa anak — anak disana tidak tahu dimana letak Jakarta, namun mengerti dimana Austalia. Karena itulah Kak Ajeng merasa prihatin dengan kondisi pendidikan disana

Fahrizal Maulana, Bagaimana pengalaman di Kalimantan? Apa harapan ke pemerintah mengenai kondisi pendidikan negara ?

– Masalah SARA yang dihadapi ketika melakukan pengajaran, untuk harapan sebenarnya kak Ajeng gak berharap banyak dari pemerintah karena terlalu money oriented, tetapi lebih menaruh harapan pada anak-anak jaman sekarang untuk melakukan perubahan

Rafli Herdiansyah, Kondisi mahasiswa itu susah dan ribet buat ngelakuin pengmas, buat ngatasinya gimana ya kak ?

– Terus ngelakuin observasi dan wawancara dengan tujuan belajar ke masyarakat, sehingga benar2 mengenal masyarakat. Terus jalanin aja, jangan terlalu terpaku atau terbatasi dengan yang namanya Proker

Fadly Erwil Prasetya, Dimana kira — kira tempat di Bandung buat mengajar ? sistem pendidikan di IM bagaimana?

– Buat tempat mengajar Tanya aja ke anak Skhole atau kelas inspirasi, merka punya banyak data, kalo konsep sistem pendidikan di IM itu lebih meberi contoh dan memotivasi, karena dengan begitu akan menyebarkan kebaikan.