REALITA BURUH INDONESIA

1

Terdapat perbedaan antara buruh di Indonesia bila dibandingkan dengan buruh dari beberapa negara di Asia Tenggara lainnya. Buruh di Indonesia mendapat Upah Minimum Pegawai (UMP) yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan negara laindi Asia Tenggara seperti Kamboja, Myanmar, dan Vietnam. Namun bila dilihat produktifitasnya ternyata produktifitas buruh di Indonesia ternyata masih lebih rendah dibandingkan negara-negara tadi.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Apindo Sofjan Wanadi menyatakan untuk Kamboja dan Myanmar saja buruh mendapat penghasilan perbulan sekitar US$ 40 atau sekitar Rp450.000,00. Kalau buruh di Vietnam mendapat penghasilan yang hampir sama dengan buruh di Indonesia. Namun terdapat perbadaan yaitu di jam kerjanya. Buruh di Vietnam memiliki produktifitas yang  lebih tinggi dilihat dari jam kerjanya 56 jam/minggu. Sedangkan buruh di Indonesia hanya bekerja 40 jam/minggu.

Sofjan juga menyatakan jika Indonesia memakai 2 buruh maka Vietnam memakai 1 buruh dan bahkan Indonesia masih memakai unskilled labour. Jika mereka bisa membuat baju 1 lusin seharinya, maka Indonesia hanya bisa membuat 6 potong. Ini bisa terjadi karena disiplin buruh di sana lebih tinggi dibandingkan di sini.

Melihat kondisi seperti ini ironisnya investor lebih senang menanamkan modalnya di perusahaan padat modal daripada menanamkan modalnya di perusahaan padat karya/labour intensif karena buruh ribut terus dan produktifitasnya kecil.

Baru-baru ini kita juga mendengar berita bahwa di Jakarta buruh menuntut upah Rp 3,7 juta. Padahal di awal 2013 UMP buruh sudah naik dari Rp 1,7 juta menjadi Rp 2.2 juta. Menteri Keuangan, Chatib Basri mengeluhkan akan adanya tuntutan gaji sebesar itu.

Buruh memang harus diperhatikan kepentingannya namun tuntutan buruh haruslah diimbangi dengan kemampuan perusahaan. Perusahaan pasti sudah menentukan alokasi dana yang mereka miliki untuk upah buruh. Bila upah buruh dinaikkan imbasnya bisa muncul buruh yang dikeluarkan dari pekerjaannya karena perusahaan perlu menyeimbangkan biaya operasional juga. Sementara perusahaan juga perlu mendapatkan keuntungan.

Harus ada kesepakatan antara pemerintah, buruh, dan pengusaha karena tidak bisa tuntutan Rp 2,2 juta menjadi Rp 3,7 juta itu dipenuhi. Kalau tidak dicapai kesepakatan maka pengusaha bisa gulung tikar dan makin banyak buruh yang tidak bisa bekerja.

 

PENULIS

DANY KURNIAWAN DUHA 12210011

NOVEMBER 2013

Dany Kurniawan Duha_12210011

 

KAJIAN STRATEGIS “KASTRAT” HMTM PATRA ITB 2013/2014

Sumber:

http://finance.detik.com/read/2013/11/05/121431/2404155/6/ini-bedanya-upah-buruh-di-myanmar-kamboja-dan-indonesia?f9911013

http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/455560-buruh-tuntut-upah-rp3-7-juta–ini-kata-pemerintah