Peran Mahasiswa Dalam Mendukung Rencana Umum Energi Nasional Sebagai Bentuk Kontribusi Nyata Dalam Agenda Indonesia Emas 2045

Ade Hilmy Maulana Achzab

Teknik Mesin 2014

Juara 2 Sayembara Menulis HMTM ‘PATRA’ ITB 2018

 

Dewasa ini, pemanfaatan energi di dunia semakin hari semakin meningkat terutama pada konsumsi bahan bakar fosil. Menurut survei yang dilakukan oleh British Petroleum pada tahun 2016, konsumsi bahan bakar fosil di dunia mencapai 4418.2 MTOE untuk minyak, 3.204,1 MTOE untuk gas alam, dan 3.732 MTOE untuk batubara serta kenaikan rata-rata2 sebesar 1,6% dari tahun 2015 (BP 2016 ). Hal ini menunjukkan bahwa dunia saat ini sedang dilanda konsumtif masyarakat terhadap energi yang begitu besar seiring dengan tingginya angka pertumbuhan jumlah penduduk di dunia. Saat ini dunia mengalami pertumbuhan jumlah penduduk dengan laju sebesar 1,18% dari tahun 2010–2015.

Dengan adanya pemanfaatan energi besarbesaran, dunia membutuhkan sebuah sumber daya energi yang besar. Sedangkan perlu diketahui bahwa sumber energi di dunia ini khususnya energi fosil sangatlah terbatas dan tidak bisa diperbarui kembali. Untuk memperbarukan diperlukan waktu yang sangat lama hingga berjuta-juta tahun. Selain itu penggunaan bahan bakar fosil sebagai sumber energi mampu mengakibatkan berbagai permasalahan lingkungan seperti menipisnya lapisan ozon yang berakibat pada pemanasan global. Pemanasan global dapat menimbulkan berbagai macam permasalahan seperti masalah iklim, naiknya volume air laut di bumi, hingga masalah kesehatan pada makhluk hidup.

Di Indonesia, pemanfaatan bahan bakar fosil sebagai bahan bakar primer pun semakin meningkat. Menurut data dari British Petroleum, jumlah kenaikan pemanfaatan bahan bakar fosil pada tahun 2016 di Indonesia sebesar 1,1 % dibanding tahun 2015 (BP 2016) . Hal tersebut tidak menutup kemungkinan bahwa kenaikan akan terus terjadi hingga beberapa tahun kedepan. Padahal seperti yang sudah kita ketahui bahwa Indonesia memiliki Rencana Umum Energi Nasional yang salah satunya berisi tentang Bauran Energi Nasional. Bauran energi ini berisi informasi tentang presentase penggunaan sumber daya energi di Indonesia yang terdiri dari minyak bumi, gas, batu bara, dan energi baru-terbarukan. Di Indonesia, penggunaan energi terbesar adalah pada sektor komoditas bahan bakar fosil.

Penggunaan bahan bakar fosil sebagai energi primer di Indonesia terutama di sektor pembangkit listrik dan transportasi masih cenderung tinggi yaitu sekitar 85,5%. Dengan tingginya konsumsi bahan bakar fosil ini ternyata menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan yang cukup signifikan seperti meningkatnya kadar CO2 di udara. CO2 merupakan gas rumah kaca yang bisa memicu terjadinya penipisan lapisan ozon. Kontributor terbesar produksi gas CO2 ini adalah pada sektor transportasi.

Selain masalah lingkungan, Indonesia memiliki jumlah cadangan minyak bumi yang relatif sedikit dibanding dengan negara-negara timur-tengah, yaitu sekitar 3.7 miliar barel dan jumlah produksi yang relatif kecil yaitu 768.000 bpod. Hal ini didukung dengan fakta bahwa infrastrukur energi seperti kilang minyak masih terbatas dan belum optimal sehingga hal ini mendorong pemerintah untuk mengimpor minyak bumi dari luar negeri. Melihat tingkat konsumsi yang semakin tinggi serta keterbatasan cadangan minyak bumi dan infrastruktur energi, sudah seharusnya pemerintah mempertimbangkan potensi sumber daya energi lain yang ada di Indonesia, salah satunya adalah energi baru terbarukan.

Energi baru terbarukan adalah sumber energi baru yang memproduksi energi secara terus menerus dan membutuhkan waktu yang relatif singkat untuk kembali ke alam. Sumber energi ini antara lain adalah panas bumi, matahari, biomassa, dan hidroelektirk. Menurut data yang diperoleh dari BPS, konsumsi energi baru terbarukan di Indonesia masih cenderung rendah yaitu sekitar 5% dari konsumsi energi total. Padahal seperti yang sudah diketahui bahwa Indonesia merupakan negara dengan sejuta kekayaan alam dengan hutan hujan, pegunungan, hasil bumi, panjanganya garis pantai, dan kekayaan alam yang lain. Namun dengan kekayaan alam yang sebanyak itu, pemanfaatan untuk dijadikan energi terutama energi listrik masih cenderung rendah. Hal ini perlu mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah lantaran energi baru terbarukan ini “zero” emisi dan tidak membahayakan lingkungan.

Dalam hal ini, melihat potensi Indonesia yang sangat besar terhadap energi baru terbarukan, pemerintah sudah membuat sebuah Kebijakan Energi Nasional (KEN) untuk pedoman pengelolaan energi nasional. Prinsip dasar yang menjadi acuan dalam proses penyusunan KEN ini adalah sebagaimana yang tercantum dalam UU №30 Tahun 2007 pasal 1 ayat 25 adalah prinsip berkeadilan, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan untuk tercapainya kemandirian dan ketahanan energi nasional dengan arah kebijakan mewujudkan ketahanan energi dalam rangka mendukung pembangunan berkelanjutan. UU tersebut juga mengamanatkan penyusunan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) dan Rencana Umum Energi Daerah (RUED) untuk mendukung implementasi KEN. Berikut adalah alur pembentukan RUEN dan RUED:

Ruen

RUEN berisi tentang hal detail yang harus dilakukan oleh pemerintah kedepannya dalam meningkatkan efektivitas dan produktivitas energi nasional supaya kemandirian dan ketahanan energi di Indonesia pun tercapai. Secara garis besar, RUEN berisi tentang kegunaan energi sebagai modal pembangunan; Pengembangan energi baru dan terbarukan; Penyelarasan target fiskal dengan kebijakan energi; Penguasaan teknologi dan peningkatan nilai tambah; Efisiensi, konservasi energi dan lingkungan; Serta pengembangan infrastruktur energi dan lingkungan. RUEN juga berisi tentang Matriks Energi Indonesia yang ditunjukkan oleh tabel berikut :

 

matriks

 

Dapat kita lihat diatas bahwa keseriusan pemerintah dalam menambah pasokan Energi Baru Terbarukan semakin terlihat. Pengembangan energi baru terbarukan ini yang awalnya hanya 5% penggunaannya sekarang semakin marak seiring dengan dilakukannya penelitihan — penelitihan dan pemanfaatan biofuel sebagai bahan bakar di beberapa kendaraan dan industri. Saat ini pun telah dikembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah di beberapa daerah mengingat volume sampah semakin meningkat dari tahun ke tahun dan berpotensi menjadi sumber energi baru dan terbarukan di Indonesia. Keseriusan pemerintah dalam pengembangan energi baru terbarukan pun bisa dilihat melalui tabel dan skema di bawah ini:

matriks2

Rencana Umum ini dibuat oleh pemerintah dan dilaksanakan oleh pemerintah periode-periode selanjutnya. Namun disini pemerintah tidak bisa berjalan sendiri, tapi harus dilaksanakan oleh seluruh elemen masyarakat dengan kesadaran penuh akan pentingnya pembangunan dan pengembangan energi baru dan terbarukan ini. Salah satu yang paling berpengaruh terhadap pengembangan energi ini adalah mahasiswa.

 

Peran Mahasiswa

Seperti yang kita tahu bahwa mahasiswa merupakan salah satu elemen di dalam masyarakat yang memiliki kelebihan dalam menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Hal itu ternyata menimbulkan tanggungjawab lebih mahasiswa terhadap kemaslahatan masyarakat secara luas. Menurut Mohammad Hatta, mahasiswa sudah sepatutnya mampu mengaplikasikan keilmuannya ke masyarakat guna menjawab permasalahan yang salah satunya adalah pengembangan energi terbarukan ini.

Disini mahasiswa dituntut mampu memliki kompetensi-kompetensi yang unggul dan kesadaran akan pentingnya membangun masyarakat yang adil dan makmur. Sebagai Agent of Change, mahasiswa harus bisa memaknai peran dan posisinya sebagai agen perubahan. Oleh karena itu dalam mendukung kebijakan RUEN dalam pengembangan energi baru terbarukan di Indonesia, sudah sepatutnya mahasiswa melakukan hal-hal berikut:

  1. Belajar dan Melakukan Kajian

Sebagai mahasiswa, sudah sepantasnya berlomba-lomba mencari ilmu dengan belajar. Disini mahasiswa tidak hanya belajar saja, namun harus dibersamai dengan peningkatan pola pikir dengan melakukan kajian bersama dengan mahasiswa lain ataupun dosen yang memiliki keahlian yang sama guna menambah khazanah pemikiran dan sense terhadap pengembangan energi terbarukan ini.

  1. Berkolaborasi Melakukan Penelitian

Setelah belajar dan melakukan pengkajian, diharapkan mahasiswa juga mampu berinisiatif untuk melakukan penelitian tentang pengembangan energi ini. Penelitian ini tidak hanya dimaksudkan untuk menambah jumlah jurnal internasional, melainkan ditujukan untuk pengembangan masyarakat. Agar gerakan penelitiannya lebih masif, maka mahasiswa harusnya berkolaborasi satu dengan yang lain.

  1. Berkolaborasi Melakukan Pengabdian ke Masyarakat

Setelah melakukan gerakan penelitian, mahasiswa harusnya melakukan realisasi dengan cara berkolaborasi membangun infrastruktur ataupun hanya sekedar memberikan edukasi kepada masyarakat terhadap pentingnya penggunaan energi baru terbarukan secara massal. Masyakarat harus mengerti urgensinya terlebih dahulu agar sama-sama memiliki kesadaran untuk mengembangan hal tersebut.

Dengan datangnya isu Indonesia Emas 2045, mahasiswa saat ini harusnya mampu bertanggungjawab terhadap kemajuan bangsa. Sebagai wujud tanggungjawab, mahasiswa harusnya secara serentak berkolaborasi dan bahu-membahu dalam pengembangan diri dengan melakukan tiga pokok kegiatan yang sudah dibahas di atas. Semuanya ini dilakukan untuk meningkatkan kemandirian dan ketahanan bangsa khususnya di bidang energi.

 

Ruang Kolaborasi Mahasiswa

Kolaborasi-kolaborasi antar mahasiswa ini membutuhkan sebuah ruang khusus di dunia kemahasiswaan. Inilah peran Organisasi Kemahasiswaan dalam menjawab kegelisahan-kegelisahan yang timbul karena tidak adanya ruang kolaborasi. Untuk itu, perlu adanya sebuah momen khusus yang menyebabkan mahasiswa bisa berinteraksi secara luas dan saling mengisi antarmahasiswa. Organisasi Kemahasiswaan berkewajiban dalam membuat sebuah wadah kolaborasi yang mampu menginisiasi ketiga kegiatan yang sudah disebutkan. Di KM ITB, ruang kolaborasi yang sudah disebutkan diatas diejahwantahkan dalam bentuk Student Summit. Student

Summit adalah sebuah agenda di KM ITB yang mempertemukan seluruh elemen di KM ITB, baik itu Kongres, Kabinet, MWAWM, HMJ, dan Unit. Semua elemen tersebut dipertemukan dalam rangka musyawarah penyusunan Arah Gerak KM ITB selama satu tahun kepengurusan. Arah Gerak ini akan menjadi agenda kolaborasi antarlembaga di sektor karya, kemasyarakatan, peduli kampus, gerakan sosial politik, gerakan arsip dan satu data KM ITB. Kolaborasi ini diinisiasi untuk mendukung tercapainya visi KM ITB, yakni gerakan mahasiswa yang masif dalam menuju Indonesia Madani.

Model ruang kolaborasi ini perlu diinisiasi oleh mahasiswa di seluruh Indonesia dalam ruang lingkup pengembangan energi terbarukan yang manfaatnya sangat luas dalam menjawab krisis energi di 2030. Dengan ini, harapannya mahasiswa sebagai pelopor kemajuan bangsa sudah sepatutnya tidak hanya menginisiasi gerakan demonstrasi saja, namun bisa membuat gerakan karya yang lebih berdampak bagi kemaslahatan umat.