PEMIMPIN ITU SEBAIKNYA AHLI DALAM BIDANGNYA

PEMIMPIN ITU SEBAIKNYA AHLI DALAM BIDANGNYA

Saat saya duduk di bangku kelas 3 SD, saya masih ingat betul guru saya yang pada saat itu sedang mengajar mata pelajaran IPA berpesan “pemimpin itu ya harus ahli di bidang yang dipimpinnya, kalau semua orang boleh jadi pemimpin apa aja ya nggak akan maju itu hal yang dipimpinnya.” Hal ini, meskipun terdengar sangat sederhana dan merupakan common sense terkadang luput dari pikiran kita.

Akhir-akhir ini Indonesia terdapat kecenderungan siapapun ingin menjadi apapun, mulai dari artis yang berbondong-bondong ingin jadi politisi atau lulusan jurusan ilmu pendidikan yang kemudian melamar di bank. Memang betul bahwa siapapun boleh saja ingin menjadi apapun, tetapi hal ini merupakan pemikiran yang sangat individualis. Mengapa individualis? Kita kaji saja dari kasus lulusan jurusan ilmu pendidikan yang melamar untuk bekerja di bank. Berapa banyak orang yang mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk mendidik ‘anak’ ini agar menjadi guru yang baik? Mulai dari dosen, senior, sampai ke teman-teman terdekatnya semuanya (mungkin) berusaha yang terbaik dan berharap agar ‘anak’ ini menjadi guru yang baik kelak di kemudian hari dan dapat mensumbangsihkan ilmunya untuk kemajuan dunia pendidikan. Lalu bukankah sebuah pengkhianatan apabila ‘anak’ ini tiba-tiba melamar kerja di bank dan akhirnya bekerja di bank, menyia-nyiakan seluruh usaha orang-orang tadi.

Dalam cakupan yang lebih luas, kecenderungan ini telah menjadi sebuah penyakit yang seakan-akan menggerogoti jantung-jantung perkembangan negara ini. Baik secara psikologis maupun pengalaman seseorang dengan keahlian di suatu bidang dapat memiliki pemikiran yang lebih baik tentang bidang yang dikuasainya. Misalnya saja lulusan doktor di bidang perikanan tentu saja memiliki pemikiran yang lebih baik tentang memajukan perikanan di Indonesia dibandingkan dengan ahli astrofisika meskipun ahli astrofisika ini jauh lebih pintar darinya. Kemudian dengan dasar pemikiran tersebut muncul sebuah tanda tanya besar mengenai bagaimana Bapak Presiden Republik Indonesia memilih para menterinya.

Coba kita tengok sebuah kementerian yang tidak asing lagi dengan dunia teknik perminyakan, yaitu kementerian energi dan sumber daya mineral. Kita lihat dari 3 pemegang jabatan terakhir Menteri ESDM. Di kabinet Persatuan Nasional (kabinet bentukan Gus Dur) Menteri ESDM kita adalah Bapak Purnomo Yusgiantoro, sarjana lulusan teknik pertambangan ITB dengan degree Ph.D. di bidang Ekonomi Sumber Daya Alam dari Colorado School of Mines. Beliau juga pernah menjabat sebagai sekjen OPEC pada tahun 1996-1998. Beliau menjabat dari tahun 2000-2009. Tidak sedikit kebijakan-kebijakan besar yang beliau ambil pada masa jabatannya.

Setelah beliau turun dari jabatannya pada tahun 2009, jabatan menteri ESDM dipegang oleh bapak Darwin Zahedy Saleh yang adalah seorang ekonom dan politisi. Dikenal baik sebagai dosen di Universitas Indonesia dan konsultan keuangan, manajemen, dan perbankan.

Hal ini cukup jomplang kalau dibandingkan dari pengalaman dan keahlian dengan Bapak Purnomo Yusgiantoro. Tidak banyak juga kebijakan besar yang diambil pada masa jabatan Bapak Darwin Saleh. Tidak begitu terdengar bagaimana kinerja Bapak Darwin Saleh.

 B

                Jero Wacik, Menteri ESDM Periode 2011-2014

Kemudian menteri ESDM yang pada saat ini menjabat adalah Bapak Jero Wacik, yang tadinya menjabat sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, yang merupakan lulusan Teknik Mesin ITB. Apakah yang sebenarnya ada di dalam pikiran Bapak Presiden ketika memilih Bapak Jero Wacik sebagai Menteri ESDM adalah betul-betul tanda tanya besar di benak saya. Saya mungkin awam dalam dunia politik di Indonesia namun saya cukup mengerti apa itu kebudayaan dan pariwisata serta apa itu energi dan sumber daya mineral dan keduanya sama sekali tidak berhubungan. Banyak sekali pertanyaan terkait ketahanan energi ketika beliau menjabat bahkan ketika isu kenaikan BBM mencuat ke permukaan pada tahun 2012 lalu Bapak Widjajono Partowidagdo (alm.) yang pada waktu itu menjabat sebagai Wakil Menteri yang lebih banyak vokal soal hal ini. Hingga dewasa ini terdapat semacam anggapan bahwa “Menterinya itu tidak perlu ahli-ahli amat di bidangnya, kan ada wamennya yang sudah ahli.” Sebuah anggapan yang betul-betul salah apabila kita merujuk pada konteks kepemimpinan yang telah saya sampaikan di paragraf awal.

Lalu coba kita tengok Secretary of Energy di Amerika Serikat yang bisa dibilang merupakan Kementerian ESDM di Amerika sana. Secretary of Energy periode tahun 2005-2009 di bawah kepemimpinan George W. Bush dipegang oleh Samuel W. Bodman. Beliau memegang gelar doktor dari Massachusetts Institute of Technology di bidang Chemical Engineering. Banyak kebijakan penting yang beliau ambil seperti pengembangan energi nuklir dan yang paling penting adalah menyelesaikan masalah energi di amerika yang pada saat itu sedang krisis.

 A

                 Steven Chu, 12th United States Secretary of Energy  (2009-2013)

Kemudian jabatan Secretary of Energy dipegang oleh Steven Chu yang merupakan ahli fisika yang pernah memenangi hadiah nobel pada tahun 1997. Sebagai profesor di University of California, Berkeley beliau melakukan research yang berkaitan dengan pengembangan energi terbarukan sebelum menjadi Secretary of Energy. Beliau sangat vokal untuk research energi terbarukan dan nuklir, berpendapat bahwa berganti dari energi fosil sangat penting untuk menghadapi perubahan iklim.

Beliau juga memegang peranan penting dalam kontrol regulasi penggunaan Hydraulic Fracturing yang meningkatkan produksi shale gas besar-besaran yang membahayakan lingkungan. Pada tahun 2013 beliau mengumumkan keinginannya untuk mengundurkan diri dan mengingatkan bahaya dari penggunaan energi fosil yang berkelanjutan. Kemudian Secretary of Energy sekarang dijabat oleh Ernest Moniz seorang ahli fisika nuklir yang merupakan Director of the Energy Initiative dan Director of Laboratory for Energy and the Environment di MIT.

Perbedaan yang mencolok yang dapat kita lihat dari Menteri ESDM Indonesia pada masa kepemimpinan Bapak Presiden RI yang sekarang dan Secretary of Energy adalah latar belakang. Dari ketiga Menteri ESDM yang dipaparkan di atas hanya Bapak Purnomo Yusgiantoro yang memiliki latar belakang di dunia keenergian dan dapat dilihat bagaimana kinerjanya. Masih banyak lagi kementerian di Indonesia yang tidak dipimpin oleh menteri yang merupakan ahlinya. Tidak hanya pada kabinet, hal ini juga terjadi dalam banyak sisi di kepemimpinan negeri ini, mulai dari anggota DPR, walikota hingga gubernur.

Apa yang kemudian dapat kita lakukan sebagai mahasiswa? Pada intinya adalah kita harus benar-benar menekuni dan menguasai bidang yang kita pelajari, jangan hanya ikut-ikutan, orang lain dagang ikutan dagang, orang lain jual jasa ikutan jual jasa, bahkan terkadang kita tidak begitu memahami apa yang kita lakukan.

Indonesia ini selain butuh banyak orang baik juga butuh banyak sekali orang pintar, namun pintar saja belum cukup. Sekarang kita membutuhkan orang pintar yang berani, berani untuk mengambil tanggung jawab, berani untuk memimpin, untuk indonesia yang lebih baik lagi.

Salah satu pesan penting terakhir yang disampaikan oleh guru SD saya itu adalah “Apabila suatu urusan tidak diserahkan pada ahlinya, maka tunggulah kehancuran.” yang ternyata perkataan tersebut dikutip dari sebuah hadist yang mengatakan hal yang sama.

 

PENULIS

Alvin Andrian_12210065

ALVIN ANDRIAN

12210065

FEBUARI 2014