KONTROVERSI LCGC (LOW COST GREEN CAR), MENGUNTUNGKAN ATAU MALAH MERUGIKAN?

LCGC (LOW COST GREEN CAR),

MENGUNTUNGKAN ATAU MALAH MERUGIKAN?

Pada awal tahun 2013 ini, ramai berembus kabar akan segera dirilisnya LCGC (Low Cost Green Car) dari beberapa produsen otomotif ternama di dunia. LCGC sendiri merupakan produk baru dari beberapa perusahaan otomotif dunia yang mengedepankan miringnya harga serta ramah dengan lingkungan. Ditengah melemahnya nilai tukar rupiah yang menyebabkan sejumlah harga barang impor naik, serta naiknya harga BBM yang semakin memperparah keadaan, adanya konsep mobil murah ramah lingkungan ini seakan menjadi solusi akan semakin mahalnya teknologi terutama di bidang otomotif. Bak gayung bersambut, berita ini disambut baik oleh banyak masyarkat di Indonesia. Namun tidak sedikit pula yang memprotes hadirnya mobil murah ini di Indonesia. Bahkan gubernur DKI Jakarta ikut memprotes penjualan mobil ini di Jakarta. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa bisa terjadi perdebatan akan adanya mobil ini? Fakta-fakta apa yang ada dibalik penjualan mobil ini? Mari kita simak lebih jauh mengenai LCGC ini.

A

            Pemerintah Indonesia baru-baru ini mengeluarkan peraturan akan adanya insentif pembebasan pajak bagi kendaran bermotor yang masuk program hemat energi. Adapun ketentuan yang harus dipenuhi agar mendapatkan pajak 0 persen untuk Pajak Penambahan Nilai Barang Mewah (PPnBM) yang seharusnya 10 persen adalah mesin maksimal berkapasitas 1.200 cc dengan syarat konsumsi BBM 1 liter untuk menempuh jarak 20 Km. Adanya peraturan ini membuat produsen otomotif berlomba-lomba untuk membuat konsep mobil LCGC dengan ciri khas masing-masing. LCGC pun mulai bermunculan di Indonesia. Dengan kisaran harga 100 juta kebawah dan konsumsi BBM 1:20 (1 liter untuk 20  Km, umumnya konsumsi BBM mobil sekarang 1:12) seakan menjadi pelengkap semakin ekonomisnya mobil ini.

Melihat akan banyaknya jenis mobil murah yang akan beredar di Indonesia, banyak pakar ekonomi memprediksi akan terjadi eksodus pembelian mobil jenis ini secara besar-besaran. Hal ini akan menyebabkan beberapa dampak positif, misalnya saja pendapatan negara yang akan terus bertambah hasil dari investasi asing serta pajak lain yang harus dibayarkan (diluar pajak PPnBM tadi) oleh produsen. Selain itu banyaknya permintaan akan membuat produsen mobil membutuhkan banyak pekerja yang akan berimbas pada semakin banyaknya lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia. Tidak hanya itu, sekarang masyarakat kelas menengah kebawah dapat membeli mobil ini dan akan menaikkan kesejahteraan masyarakat dimana tingkat kesejahteraan  merupakan salah satu indikator semakin majunya suatu negara.

Ditengah banyaknya klaim bahwa mobil jenis LCGC dapat memberikan banyak manfaat, terdapat pula pendapat yang meragukan mobil ini, sebut saja Jokowi yang tidak lain merupakan gubernur DKI Jakarta. Beliau berpendapat murahnya mobil ini akan menyebabkan kenaikan jumlah pembelian mobil di masa yang akan datang. Padahal, dengan harga mahal saja penjualan mobil dari tahun ke tahun terus meningkat.

Tahun Mobil Bis Truk Sepeda motor Jumlah
2000 3 038 913  666 280 1 707 134 13 563 017 18 975 344
2001 3 189 319  680 550 1 777 293 15 275 073 20 922 235
2002 3 403 433  714 222 1 865 398 17 002 130 22 985 183
2003 3 792 510  798 079 2 047 022 19 976 376 26 613 987
2004 4 231 901  933 251 2 315 781 23 061 021 30 541 954
2005 5 076 230 1 110 255 2 875 116 28 531 831 37 623 432
2006 6 035 291 1 350 047 3 398 956 32 528 758 43 313 052
2007 6 877 229 1 736 087 4 234 236 41 955 128 54 802 680
2008 7 489 852 2 059 187 4 452 343 47 683 681 61 685 063
2009 7 910 407 2 160 973 4 452 343 52 767 093 67 336 644
2010 8 891 041 2 250 109 4 687 789 61 078 188 76 907 127
2011 9 548 866 2 254 406 4 958 738 68 839 341 85 601 351

Sumber : Badan Pusat Statistik

Dapat dilihat bahwa dari tahun ke tahun jumlah mobil semakin meningkat, apabila harga mobil sekarang semakin murah dapat dipastikan akan terjadi lonjakan jumlah mobil dalam waktu dekat yang akan berimplikasi pada semakin macetnya kondisi jalan, terutama di Jakarta. Hal ini sendiri bertentangan dengan program pemerintah DKI Jakarta dalam menangani kemacetan di ibu kota. Hal inilah yang ditakuti oleh Jokowi. Tidak hanya itu, murahnya harga mobil LCGC dikhawatirkan akan membuat mobil nasional semakin tidak memiliki tempat di masyarakat. Padahal mobil nasional, misalnya Esemka, lebih ramah lingkungan dari mobil LCGC itu sendiri. Hal ini dikarenakan mobil nasional diisukan akan menggunakan bahan bakar dari listrik, sedangkan mobil LCGC masih menggunakan Pertamax. Bahkan ada pendapat dari seorang ahli yang menyatakan bahwa mobil LCGC masih belum ramah lingkungan, namun ‘hanya’ hemat bahan bakar saja.

2

Sumber : tribunnews.com

Mendapat serangan dari berbagai pihak yang kontra akan adanya mobil LCGC ini, Johnny Darmawan (Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor (TAM) ) pun angkat bicara dan menyatakan bahwa penyebab kemacetan bukan dari jumlah mobil itu sendiri, melainkan dari tata kota dan jalan yang masih belum baik. Benarkah demikian? Berikut adalah 10 kota termacet versi IBM :

  1. Beijing
  2. Mexico
  3. Johannesburg
  4. Moscow
  5. Newdelhi
  6. Saopaolo
  7. Milan
  8. Buenos Aieres
  9. Madrid
  10. London

Dapat dilihat bahwa dari 10 besar kota termacet di dunia, ada nama-nama kota besar seperti Beijing, Moscow, Milan, Madrid, dan London yang jelas memiliki tatakota dan jalan yang lebih baik dari Indonesia namun masih saja mengalami masalah kemacetan. Mungkin saja yang dikatakan Johny mengenai tatakota dan jalan mempengaruhi tingkat kemacetan memang benar, namun ada hal yang lebih berpengaruh daripada hal yang disampaikan tadi, yaitu tingkat pertumbuhan/pembelian kendaraan bermotor. Coba perhatikan kembali daftar 10 kota tadi, hampir semua kota tadi merupakan ibukota negara masing-masing yang menunjukkan bahwa kota tersebut memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi paling besar di negara asal. Implikasinya adalah jika pertumbuhan ekonomi semakin tinggi, maka kebutuhan akan kendaraan bermotor juga akan naik sedangkan kapasitas jalan tetap. Bahkan Tokyo yang merupakan negara dengan fasilitas transportasi umum sangat baik pun masih mengalami masalah kemacetan akibat dari tingginya tingkat pertumbuhan ekonomi di kota ini (walaupun tidak sampai masuk 10 besar kota termacet dunia). Bahkan dengan kebijakan tarif parkir selangit pun masih belum  bisa menurunkan tingkat kemacetan suatu kota dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Perhatikan daftar kota dengan tarif parkir tertinggi di dunia berikut :

 

 

Kota, Negara

Tarif parkir / bulan

London, Inggris

9,7 jt

Zurich, Swiss

7,3 jt

Hongkong, China

6,7 jt

Tokyo, Jepang

6,6 jt

Roma, Italia

6,4 jt

Perth, Australia

6,4 jt

Jenewa, Swiss

6,3 jt

Sydney, Australia

6,2 jt

Oslo, Norwegia

5,5 jt

Melbourne, Australia

5,3 jt

Sumber : finance.detik.com

 

Dari daftar tabel diatas, London merupakan kota dengan tarif parkir termahal di dunia yaitu sebesar 9,7 jt / bulan (323 rb/hari), dan di urutan 10 yaitu Melbourne sebesar 5,3 jt / bulan (176 rb/hari). Bandingkan saja dengan tarif parkir di Jakarta yang rata-rata ‘hanya’ sekitar  40 rb/hari. Dengan tarif setinggi itu saja London masih mengalami masalah kemacetan, bagaimana dengan Jakarta yang memilki tarif parkir lebih murah. Ditambah lagi saat ini Jakarta merupakan salah satu kota dengan pertumbuhan ekonomi paling besar di Indonesia.

Berkaca dari semua hal tersebut diatas, lantas apa yang harus pemerintah lakukan? Menurut pandangan saya, tidak apa-apa mobil LCGC beredar di Indonesia, hanya tempat penjualannya dibatasi di daerah-daerah tertentu saja sehingga manfaat-manfaat yang sudah disebutkan sebelumnya dapat terealisasikan tanpa harus mendapatkan dampak negatifnya (kemacetan). Masyarakat kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung jangan diberi izin untuk memiliki mobil jenis ini. Tapi bukankah akan banyak cara untuk mengakalinya? Misalnya saja masyarakat kota besar membeli mobil tersebut di kota kecil kemudian membawa mobil tersebut ke kota asalnya. Ya itu benar, dan mungkin saja akan terjadi. Namun dengan kerjasama banyak pihak terkait, misalnya kepolisian, pemerintah daerah, dll maka regulasi dan peraturan yang spesifik dapat ditegakkan sehingga mobil jenis ini tidak beredar di kota besar. Selain itu, kesadaran dari masyarakat itu sendiri harus dibangkitkan. Bukankah apabila mereka tidak membeli mobil tersebut dan menggunakan angkutan umum akan secara tidak langsung membuat jalan semakin berkurang tingkat kemacetannya dan membuat mereka lebih mudah melakukan perjalanan.

1

Mobil LCGC, sumber : www.oto-magz.com

Di lain pihak pemerintah harus segera melakukan pembenahan infrastruktur transportasi umum. Jangan masyarakat saja yang harus mengalah, pemerintah harus memberikan langkah konkret dalam mengatasi masalah ini. Misalnya saja untuk di Jakarta pembuatan kereta monorel segera dipercepat, penambahan armada bus trans Jakarta, peremajaan metromini yang sudah tidak layak pakai, dll. Apabila semua pihak terkait dapat bekerjasama demi kelancaran transportasi, tingkat kemacetan dapat ditekan dan semua pihak akan merasakan manfaatnya.

Lantas bagaimana dengan kita mahasiswa? Apa yang bisa kita lakukan? Tidak perlu gerakan besar karena memang kapasitas kita belum sampai disana. Demo? Tidak perlu demo juga karena masyarakat justru ingin mobil jenis ini banyak dipasaran. Lalu apa yang bisa kita lakukan? Cukup melakukan hal kecil yang bermanfaat saja  Sejauh ini, menurut saya yang bisa kita lakukan yaitu membantu mengingatkan orang-orang disekitar kita dan memberi contoh bagi masyarakat luas. Karena hal besar dimulai dari hal kecil, maka mari kita lakukan hal-hal kecil seperti itu dari sekarang teman!

“Nothing will work unless you do”, Maya Angelou

PENULIS

YUDHA PRAMANA 12210077

NOVEMBER 2013

Yudha Pramana_12210077

KAJIAN STRATEGIS “KASTRAT” HMTM PATRA ITB 2013/2014