IRONI MAY DAY!

1 MEI, itulah hari buruh internasional. Hakikatnya pada hari itu, para buruh sedunia memperingati hari ulang tahunnya sebagai buruh dengan sukacita. Tetapi yang terjadi di republik kita ini sungguh berbeda. Tiap 1 MEI, di tiap-tiap daerah hampir semua buruh libur bekerja, bukan untuk melakukan syukuran ataupun mengikuti pesta hiburan, tetapi berdemo ke kantor PEMDA setempat, atau bahkan ISTANA NEGARA. Demo yang selalu dihiasi oleh kemacetan jalan raya dan bentrok dengan aparat polisi.

Buruh berdemo hanya untuk 1 tujuan: bertemu dengan pemangku AMANAH di republik ini bukan untuk mengeluhkan kodratnya sebagai buruh, tetapi menuntut hak mereka agar diperlakukan bukan sebagai BUDAK, tetapi sebagai ASET BERHARGA perusahaan karena mereka juga manusia! Tetapi liatlah kenyataannya, Presiden SBY saja sejak berkuasa di republik ini, tidak pernah berani setidaknya menjumpai para buruh yang berdemo, apalagi duduk bersama. Selalu saja beliau menghindar dengan caranya sendiri, misalnya melakukan kunjungan ke daerah lain ataupun ke luar negeri.

PIC2_IRONI MAY DAY

Adapun suara tuntutan para buruh di antaranya, penolakan kenaikan harga BBM, penolakan penangguhan upah minimum, penghapusan outsourcing, pemberian jaminan kesehatan, penolakan RUU KAMNAS dan RUU ORMAS, penghentian UNION BASTING, dan perevisian UU BURUH MIGRAN serta pengajuan RUU PEKERJA RUMAH TANGGA. Sementara pemerintah SBY sampai saat ini ‘menjawab’ dengan tindakan berikut: penetapan 1 MEI sebagai hari libur nasional, pemberian UMR di kisaran 800 ribu – 2,2 juta rupiah (UMR terendah di Jawa Tengah dan tertinggi di Jakarta), penjaminan kesehatan bagi buruh melalui BPJS yang berbentuk badan hukum mulai  Januari 2014, dan mungkin akan semakin banyak lagi menjelang tahun PEMILU 2014. Jelaslah buruh dijadikan TUMBAL ketika dihadapkan dengan PENGUSAHA sekaligus sebagai PANGSA PASAR ketika dihadapkan dengan Pemilu atau PILKADA.

Hal ini tentunya mencederai HAM di saat SBY berkoar-koar menegakkan hukum dan HAM. Buruh dilarang untuk sakit karena mahalnya biaya berobat, buruh tidak punya masa depan karena sistem outsourcing yang membuat mereka kapan saja bisa diPHK secara sepihak oleh perusahaan, buruh dilarang bebas berkumpul dan berpendapat karena mereka hanyalah sekumpulan manusia berpendidikan rendah. Padahal, bila dibandingkan dengan saudara serumpun republik ini, dimana di negara tersebut UMR tahun ini senilai 4,5 juta rupiah dan asuransi kesehatan untuk setiap buruh disamping penetapan 1 MEI sebagai hari libur nasional sedari dulu.

Memang sulit bagi pemerintah untuk mencari titik temu antara buruh dan pengusaha. Pengusaha menginginkan sistem outsourcing demi memangkas biaya produksi yang mahal di negeri ini. Mereka menganggap produktivitas kerja dan pendidikan buruh yang rendah sehingga layak diupah rendah. Mereka juga mengeluhkan terlalu banyaknya hari libur nasional di negeri ini dan sedikitnya jam kerja buruh yang rata-rata 42 jam seminggu, berbeda dengan tetangga kita Malaysia, yang 48 jam seminggu. Namun, jika produktivitas buruh rendah, bagaimana bisa pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 6% per tahun?

PIC1_IRONI MAY DAY

Sudah saatnya pemerintah memperkecil kesenjangan ekonomi yang terjadi di negeri ini. Sudah saatnya pemerintah menyusun kebijakan yang PRO RAKYAT, terutama rakyat kecil dan kurang mampu yang dalam UUD dilindungi oleh negara. Berikan kepada buruh apa yang selayaknya menjadi haknya, jangan anggap mereka ‘komoditas murahan’, ‘kasta terendah’ di negeri ini yang bisa dimanfaatkan sesuka hati untuk memdongkrak popularitas atau alat pencitraan pemerintah di depan masyarakat umum. Pendidikan yang rendah bukanlah karena keinginan buruh, tetapi karena mahalnya biaya sekolah. Jangan sampai kekuatan buruh sebagai kekuatan terbesar di negeri ini, mengamuk, meruntuhkan rezim pemerintahan sekarang, dan menciptakan suasana destabilitas di negeri ini.

PENULIS

HARY SEMARNASA SARAGIH 12211012

MEI 2013

Hari Semarnasa Saragih_12211012

KAJIAN STRATEGIS “KASTRAT” HMTM PATRA ITB 2013/2014