Kemana Perginya Semangat Pengembangan CBM di Indonesia?

cbm

Coal Bed Methane atau yang biasa disingkat CBM merupakan salah satu sumber hidrokarbon dengan metode perolehan yang tidak konvensional. CBM diproduksikan dengan melakukan pemboran pada formasi batubara yang memiliki kandungan gas metana di dalam rekahan-rekahan lapisannya atau yang biasa disebut dengan cleats. Gas metana yang terbentuk bersamaan dengan matangnya batubara terperangkap di dalam formasi batubara karena tertahan oleh tekanan dari fluida lain yang biasanya adalah fresh water karena wilayah-wilayah terbentuknya CBM pada umumnya merupakan kawasan rawa yang memiliki suplai air yang cukup tinggi. Karena metode perolehannya yang tidak konvensional tantangan terbesar pada produksi CBM terletak pada kapabilitas teknologi dan juga sumber daya manusianya, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia. Hingga saat ini telah ada sekitar 50 kontrak bagi hasil (PSC) proyek CBM di Indonesia dan pada umumnya sedang berada dalam tahap eksplorasi dan pilot project. Beberapa hal yang mendukung pengembangan CBM di Indonesia diantaranya adalah karena adanya sumber daya batubara yang cukup melimpah, bahkan potensi CBM di wilayah Indonesia menduduki posisi paling besar ke-6 di dunia yakni sekitar 300-450 trillion cubic feet (Tcf), lalu cadangan minyak dan gas Indonesia juga seiring waktu semakin berkurang karena sulitnya proses eksplorasi yang harus mulai bergeser ke wilayah laut dalam, dan selain itu, di dalam tahap pemroduksiannya CBM tidak menghasilkan flare gas sehingga punya nilai lebih dari segi keramahan lingkungan, tidak memerlukan pengadaan genset untuk pembangkit listrik serta implementasinya lebih sederhana. Pada tahun 2013 lalu, PT Pertamina (Persero) telah menyiapkan investasi sebesar US$ 1.5 milyar atau setara dengan Rp 14.6 triliun untuk melakukan eksplorasi 200 sumur CBM dalam lima tahun ke depan, itu artinya saat ini adalah tahun keempat dari keberjalanan investasi tersebut. Direktur Utama Pertamina pada saat itu, Karen Agustiawan, mengatakan bahwa perlunya pengembangan CBM adalah untuk mengurangi ketergantungan minyak dan beralih pada sumber energi alternatif untuk mengamankan ketahanan energi nasional yang berkelanjutan di masa mendatang. Masih di tahun yang sama yakni 2013, perusahaan Vico Indonesia telah berhasil menyalurkan listrik berbahan bakar CBM ke sekitar 2500 rumah penduduk di Kalimantan dan proyek ini merupakan pemanfaatan CBM untuk listrik yang pertama di Indonesia. General Manager PLN Kalimantan Timur pada saat itu, Nyoman S Astawa, mengatakan bahwa penggunaan CBM untuk kelistrikan telah menghemat biaya listrik hingga Rp 1550 per kilowatthour (kWh). Harga produksi jika memakai solar sekitar Rp 2700 per kWh sedangkan jika memakai CBM harganya dapat ditekan hingga Rp 1150 per kWh. Menurut beliau, total penghematan biaya listrik berkat CBM mencapai Rp 17 milyar per tahun dan hal ini tentu sangat menguntungkan PLN karena dapat menekan subsidi pemerintah. Pasokan CBM tersebut berasal dari Blok Sanga-Sanga Kabupaten Kutai Kertanegara Kalimantan Timur.

 

Pada tahun 2014, pemerintah Indonesia menargetkan akan melakukan pemboran sebanyak 40 sumur CBM di sepanjang tahun tersebut. Langkah itu diambil guna mempercepat pengembangan CBM di tanah air Indonesia. Menurut Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral pada saat itu, Susilo Siswoutomo, pengembangan CBM pada saat itu belum optimal terlihat dari hasil produksinya yang masih rendah. Saat itu di Indonesia baru ada dua sumur yang menghasilkan CBM dengan laju produksi sebesar 0.5 juta kaki kubik per hari (mmscfd). Harapan pemerintah adalah paling tidak sumur-sumur CBM yang telah ada dapat menghasilkan gas yang cukup untuk dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik. Sebagai upaya untuk mengembangkan CBM di Indonesia dengan lebih giat lagi, pada tahun 2014 lalu PT Pertamina (Persero) ingin mengajak pemerintah baru di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo untuk berdiskusi mengenai pengembangan CBM di Indonesia, karena produksi CBM di Indonesia telah berjalan tidak seperti yang diharapkan. Direktur Hulu Pertamina, Muhamad Husein, mengatakan bahwa salah satu sumur CBM yang sedang dikelola oleh Pertamina di Muara Enim tingkat hasil produksinya tidak memuaskan karena masih berada di bawah angka harapan. Menurut beliau pula, peristiwa tersebut tidak hanya dialami oleh Pertamina saja melainkan dirasakan juga oleh kontraktor-kontraktor lain yang sedang mengelola proyek CBM. Di sisi lain harga jual CBM juga masih berada di bawah biaya produksinya. Oleh karena itu, Pertamina ingin melakukan pembicaraan dengan pemerintahan Jokowi untuk membicarakan pengembangan CBM di Indonesia. Pertamina ingin meminta insentif pengembangan gas yang berasal dari batubara tersebut.

Akan tetapi, lagi-lagi pengembangan CBM di Indonesia mengalami hambatan. Hambatan tersebut diakibatkan oleh jatuhnya harga minyak secara drastis pada tahun awal tahun 2015 lalu. Penurunan harga minyak mentah membuat pencarian sumber gas metana batubara di Indonesia menjadi lesu. Hal tersebut terbukti dari berhentinya proyek-proyek CBM di Indonesia. Direktur Pembinaan Hulu Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Naryanto Wagimin, dari 50 kontrak bagi hasil proyek CBM yang ada, hanya 10 persen atau setara dengan hanya lima kontrak yang sedang dikerjakan. Hal tersebut semakin diberatkan oleh penurunan harga minyak mentah dunia. Pemerintah sedang mencari cara agar 50 kontrak bagi hasil proyek CBM tersebut dapat kembali beroperasi dan segera berproduksi. Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, I Nyoman Wiratmaja, mengatakan bahwa agar kegiatan eksplorasi CBM di Indonesia dapat meningkat maka akan diperlukan banyak investor di setiap proyek yang sedang diusahakan. Untuk menciptakan iklim investasi yang baik sehingga dapat menarik minat banyak investor, pemerintah sedang berusaha menyiapkan aturan khusus untuk kegiatan eksplorasi dan eksploitasi CBM. Karena dari karakteristiknya CBM berbeda dengan gas konvensional atau gas bumi. Pada saat itu regulasi yang digunakan untuk mengatur pengembangan CBM di Indonesia masih berupa regulasi turunan dari regulasi yang digunakan untuk mengatur pengembangan gas konvensional.

 

Kesimpulannya adalah betapa sangat disayangkan bahwa pengembangan CBM di Indonesia hanya berjalan di awal waktu isunya sedang berkembang saja tidak diiringi dengan upaya yang berkesinambungan sehingga seolah-olah seperti kehilangan semangat di tengah jalan. Hingga saat ini pun pengembangan CBM di Indonesia masih mengalami banyak kendala dan hambatan. Selain kendala-kendala yang telah disebutkan di atas, masih sangat banyak pula kendala lain yang belum disebutkan, terutama kendala-kendala non-teknis seperti kontraktor-kontraktor yang tidak akan melanjutkan operasinya selama belum ada kontraktor lain yang berhasil karena tidak ingin mengambil resiko. Di sisi lain di saat telah ada beberapa kontraktor yang berhasil mengerjakan proyeknya, data yang telah mereka peroleh dari lapangan disimpan secara rahasia agar tidak diketahui oleh kontraktor lain. Belum lagi kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh pelaku usaha bisnis hulu migas dalam merancang kebutuhan operasional dan pembiayaan proyek, dan masih banyak lagi tindakan-tindakan pelaku usaha bisnis hulu migas yang menjurus ke arah korupsi. Hal tersebut bukanlah asumsi pribadi semata, melainkan informasi yang telah penulis terima dari salah satu dosen pengajar mata kuliah Perolehan Hidrokarbon Non-Konvensional. Selain itu masih sangat banyak kendala lain baik kendala teknis maupun non-teknis. Jika sikap Indonesia mengacu kepada fakta yang ada, yang telah jelas menyebutkan bahwa potensi CBM Indonesia merupakan yang terbesar ke-6 di dunia yakni 300-450 Tcf, seharusnya upaya yang dilakukan dalam mengembangkan CBM di Indonesia tidak berhenti sampai di sini. Jangan sampai potensi yang luar biasa ini hanya menjadi sekedar informasi bagi rakyat Indonesia saja. Indonesia patut bercermin pada negara-negara yang mampu merealisasikan potensi CBM-nya seperti Russia, Amerika Serikat, China, dan lainnya, sudah jelas ada yang salah pada bangsa ini jika perbedaan kemampuan pengembangan CBM Indonesia dengan bangsa lain benar-benar signifikan seperti sekarang ini.

 

Jayalah Indonesia!

 Oleh: Prajaka Trimandiri Putra

 

 

Referensi:

http://www.migasreview.com/post/1417414635/mengenal-potensi-coalbed-methane-di-indonesia.html

http://www.dunia-energi.com/cbm-untuk-listrik-pertama-di-indonesia-diresmikan/

http://www.geologinesia.com/2017/01/pengembangan-cbm-di-indonesia.html

http://bisnis.liputan6.com/read/568457/pertamina-investasi-rp-146-triliun-untuk-kembangkan-cbm?source=search

http://bisnis.liputan6.com/read/577287/listrik-cbm-pertama-di-ri-mengalir-ke-2500-rumah?source=search

http://bisnis.liputan6.com/read/2027713/ri-bakal-bor-40-sumur-cbm-di-2014?source=search

http://bisnis.liputan6.com/read/2099911/sulit-cari-cbm-pertamina-bakal-minta-insentif-ke-jokowi?source=search

http://bisnis.liputan6.com/read/2193405/harga-minyak-anjlok-bikin-proyek-cbm-mandek?source=search