Membuka Mata Hati

by : Grha Gandana Putra (PATRA15026)

Pada hari Selasa, 30 November 2017 saya dan dua teman saya mendapat kesempatan untuk bermain dengan anak-anak di Kebon Binatang Bandung. Anak-anak ini merupakan anak-anak yang berasal dari Rumah Bagea, Pasir Koja, Bandung dimana notabenenya anak-anak ini mayoritas merupakan anak-anak jalanan. Sebelumnya saat ini pun saya tengah mengikuti suatu kegiatan kerelawanan di Rumah Bagea. Singkatnya Rumah Bagea ini merupakan rumah singgah bagi anak-anak jalanan di daerah Pasir Koja yang digagas oleh Bu Sumi. Anak-anak jalanan ini pada umumnya berprofesi sebagai pengamen.

Kegiatan ke Bonbin kali ini merupakan sebuah refreshing bagi anak-anak dimana biasanya mereka berada di pinggir jalan dan mengamen tapi kali ini mereka bisa melihat dan merasakan suatu pemandangan yang baru dengan melihat binatang-binatang yang ada di sana. Saya dan dua teman saya di sana menemani anak-anak di sana untuk berkeliling sembari menghibur mereka juga. Memang ini terlihat sebagai sesuatu yang sederhana tapi saya merasakan hal lain dimana saya merasa terharu dapat adik-adik ini dapat tertawa dengan lepas, berlari kesana kemari, dan hal-hal lainnya. Hal ini juga membuat saya tersenyum dan terbesit satu pertanyaan dalam benak saya. “Bagaimana nasib mereka di masa yang akan mendatang?”. Saat saya sedang berkeliling di sana saya sempat menanyakan salah satu anak yang membuat saya bertanya-tanya, nama anak tersebut adalah Yogi. Yogi sendiri merupakan anak yang ceria dan aktif seperti anak-anak yang seusia dia pada umumnya. Di saat anak-anak yang lain didampingi oleh ibu mereka masing-masing tetapi saya melihat Yogi tidak didampingi oleh ibu kandungnya melainkan oleh satu pengajar. Kemudian karea saya kepo saya tanyakan kepada Bu Sumi kenapa Yogi tidak bersama orang tuanya. Kemudian Bu Sumi menjawab pertanyaan saya yang membuat saya tercengang ketika mendengarnya. Jawabannya adalah ibu Yogi adalah seorang PSK dan saat ini pun ibunya masih menggeluti pekerjaan tersebut. Ketika mendengarnya saya merasa iba pada Yogi bagaimana dia hidup? Makan darimana dia? Bagaimana dia mendapat kasih saying?.

Cerita Yogi ini merupakan satu dari sekian anak-anak jalanan yang ada di Rumah Bagea dan masih banyak lagi cerita-cerita lain dari adik-adik kita ini yang bahkan lebih memprihatinkan lagi. Masalah anak-anak jalanan ini mungkin masih dipandang sebelah mata oleh banyak orang dan masih sedikit orang-orang seperti Bu Sumi dkk untuk melakukan hal ini. Dan saya merasa bersyukur karena bisa menambah motivasi hidup saya dan membuat saya bersyukur juga dengan bertemu dengan adik-adik ini. Cobalah teman-teman juga membuka mata teman-teman karena dengan semakin banyak melihat realita yang ada di sekeliling kita akan menambah makna tentang arti pentingnya mensyukuri hidup. Sekian dan terima kasih.