Short Class Migas: Cerdaskan Mahasiswa Mengenai Era Migas Non-Konvensional

BANDUNG, itb.ac.id – Pada Sabtu(31/01/15) digelar diskusi publik mengenai minyak dan gas (Migas) bertempat di Ruang 9232 Gedung Kuliah Umum (GKU) Timur. Diskusi publik yang diberi nama ‘short class migas‘ ini diselenggarakan oleh Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ITB bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Teknik Perminyakan ‘PATRA’ (HMTM) ITB. Lebih dari 200 mahasiswa menghadiri diskusi publik yang bertemakan “”Geopolitik Migas dan Era Migas Non-Konvensional di Indonesia”.

Sejumlah empat pembicara yang sama-sama berkompeten di bidang perminyakan namun memiliki pandangan berbeda terhadap tema yang dibawakan, hadir dalam short class migas in. Mereka adalah Ir. Widhyawan Prawiraatmadja, MBA, Ph.D. selaku Staff ahli Kementerian ESDM yang akan mewakili pemerintah, Prof. Ir. Doddy Abdassah, M.Sc., Ph.D., Dosen Teknik Perminyakan ITB, yang akan mengupas dari sudut pandang akademisi, Ir. John S. Karamoy ‘The Oil-Man’, selaku wakil dari pengusaha, dan Ir. Pria Indirasardjana yang akan memaparkan dari sudut pandang ekonom.

Dengan dipandu oleh Jordi Lokanata (Teknik Perminyakan 2012) selaku moderator, Pria sebagai pembicara pertama memaparkan mengenai gerakan pewacanaan energy security. Dalam pemaparanya, Pria mengatakan bahwa yang disebut konsep energy security erat kaitannya dengan ketersediaan, aksesabilitas, keterjangkauan, cadangan minyak mentah, dan alternatif energi baru terbarukan. “Saat ini muncul istilah ‘masyarakat galau energi’ karena kebutuhan masyarakat akan energi semakin meningkat akan tetapi tidak diiringi dengan jumlah cadangan yang tersedia,” jelas Pria.

Pemaparan selanjutnya dilakukan oleh Doddy Abdassah yang menjelaskan mengenai era migas non-konvensional di Indonesia. Doddy menjabarkan teori Hydrocarbon Resource Triangle yang menjelaskan bahwa semakin non-konvensional sumber migas tersebut berasal, maka jumlahnya akan semakin banyak dan proses produksinya semakin susah, begitupun sebaliknya. “Sekarang ini mulai dikembangkan sumber-sumber migas yang non-konvensional seperti, shale oil yang sekarang sedang ramai diperbincangkan, coal bed methane (CBM), shale gas, gas hidrat, dan beberapa lainnya,” ungkap Doddy.

Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan oleh Widhyawan. Selaku wakil dari pemerintah, Ia menyampaikan mengenai alasan pengahupasan BBM bersubsidi. “Selama ini subsidi BBM bukan hanya disalah gunakan oleh kalangan mampu di Indonesia, melainkan non-warga negara Indonesia tidak jarang turut menikmati subsidi BBM ini. Dan ini memang terjadi di sebagian besar daerah perbatasan di Indonesia,” ungkap Widhyawan. Ia juga menambahkan bahwa dana subsidi bahan bakar dan LPG senilai 246 triliun rupiah ini bisa dipakai untuk memajukan sektor lain, seperti pendidikan, kesehatan, pertania, industri sumber daya energi, dan sebagainya.

source : www.itb.ac.id