Senyum Sementara: Sebab Turunnya Harga Minyak Dunia dan Langkah Pemanfaatannya

Oleh Anton Kurniawan (12213018)

Ada senyum mengembang dari pengendara motor yang baru saja mengisi bahan bakar tunggangannya di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) terdekat. Premium dapat dibeli seharga Rp6.600 per liter setelah sebelumnya sempat melambung sampai Rp8.500 per liter dan turun perlahan menjadi Rp7.600 per liter. Begitupun awak bis kota yang biasa mengisi penuh solar di tangkinya untuk operasional. Solar kini dapat dibeli dengan harga Rp6.400 per liter setelah sempat mencapai Rp7.500 per liter dan turun menjadi Rp7.250 per liter. Hal ini memberikan sedikit angin segar, walaupun biaya kehidupan lain tampaknya masih enggan mengekor penurunan BBM bersubsidi.

Begitulah kira-kira yang terjadi saat ini di masyarakat Indonesia. Banyak respon positif dari masyarakat saat pemerintah kembali menyesuaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi selaras dengan turunnya harga minyak dunia.

Pertanyaan lantas muncul. Bagaimana bisa harga minyak dunia turun padahal isu minyak bumi akan habis selalu mengemuka. Terdapat dua faktor utama yang menjelaskan fenomena ini. Pertama, penemuan energi non-konvensional oleh Amerika Serikat, konsumen terbesar minyak dunia. Energi non-konvensional yang dimaksud adalah gas non-konvensional seperti gas hidrat (gas yang berbentuk kristal es), Coal Bed Methane (CBM/ gas alam yang terjebak di batubara), dan tight gas (deposit gas di sela-sela batu berpermeabilitas rendah). Shale oil adalah minyak yang ada pada lapisan batuan source rock. Amerika Serikat memiliki cadangan sebesar 33 miliar barrel dari sektor ini sehingga mengurangi konsumsi Amerika Serikat terhadap minyak bumi yang saat ini mencapai 18,5 juta barrel per hari.

Kedua, keengganan negara pengekspor minyak yang tergabung dalam Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) untuk menahan produksi. Iran dan Rusia sebenarnya menyatakan keinginan untuk menurunkan produksi agar harga minyak kembali naik, tetapi ada strategi politik yang berkembang bahwa OPEC lebih memilih menjual harga minyak dengan murah agar shale gas dan shale oil tidak berkembang di Amerika Serikat sambil berharap mekanisme pasar mengembalikan harga minyak dunia ke derajat yang lebih baik.

Di Indonesia sendiri penurunan harga minyak dunia semestinya berpengaruh positif. Dengan tingkat produksi 800 ribu barrel per hari dan konsumsi sebesar 1,5 juta barrel per hari, selayaknya Indonesia mendapat untung karena tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk mengimpor minyak setiap harinya. Hanya saja, masyarakat yang sudah terlanjur nyaman dimanja tampaknya membuat pemerintah harus berpikir ekstra keras. Masyarakat menuntut harga BBM selalu murah apapun keadaannya. Ini memang merupakan buah kebijakan subsidi “permanen” padahal daya beli masyarakat sudah cukup baik saat ini. Kita tentu merenung apabila melihat mobil berharga di atas 200 juta rupiah ikut mencicipi BBM yang semestinya dialokasikan bagi rakyat yang membutuhkan.

Kita sempat terkejut ketika Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo saat menaikkan harga BBM bersubsidi di saat harga minyak turun ke level US$ 65 per barrel November 2014 lalu. Pemanfaatan momentum ini patut diapresiasi, selain itu kebijakan untuk menaikkan sesegera mungkin setelah diumumkan juga tidak memberikan ruang dan waktu protes yang memadai dan memungkinkan kenaikkan harga dapat dilaksanakan.

Pemerintah pun mengambil langkah lebih jauh setelah menaikkan harga BBM. Setelah membentuk Komite Reformasi Tata Kelola Migas (KRTKM) yang dipimpin oleh Faisal Basri, pemerintah mengubah kebijakan subsidi BBM. Saat ini BBM disubsidi tetap Rp1.000 per liter sehingga harga keekonomiannya akan mengikuti harga minyak dunia. Kebijakan ini menuai pro dan kontra. Meskipun ada anggapan bahwa pemerintah seharusnya mengatur harga BBM bersubsidi secara tetap merujuk pasal 33 UUD 1945, namun masyarakat Indonesia harus mulai dibiasakan untuk mandiri secara energi, memenuhi kebutuhan energinya sendiri.

Perhitungan harga BBM saat ini sudah mengacu Mean of Platts Singapore (MOPS) sebesar US$ 73 per barrel dan kurs Rp12.380 per dollar AS pada periode 25 November-24 Desember 2014. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said juga menyatakan akan mengubah Peraturan Menteri ESDM Nomor 39 Tahun 2014 yang masih mengatur penetapan harga BBM setiap satu bulan menjadi dua minggu sekali.

Waspada Kenaikan Harga Minyak Dunia

Kematian dari Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdulaziz pada Januari lalu menjadi pertanda perubahan tren harga minyak dunia. Perlahan, harga minyak dunia kembali naik hingga saat ini mencapai US$ 55 barrel per liter. Sebelum akhirnya harga minyak dunia kembali melambung mengikuti mekanisme pasar, ada baiknya pemerintah mulai mengambil langkah nyata.

Terdapat tiga hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah di saat harga minyak dunia turun seperti saat ini. Hal itu adalah pengembangan energi alternatif, pelaksanaan kajian menyeluruh terhadap pencabutan subsidi, dan rekonsiliasi terhadap perusahaan minyak dan gas nasional. Pertama, pengembangan energi alternatif. Pemerintah harus memiliki keinginan politik yang sungguh kuat karena di dalam perjalanannya bukan tidak mungkin kegagalan akan muncul. Masih ada energi alternatif selain gas bumi dan batubara yang dapat dioptimalkan. Bukan tidak mungkin terdapat shale gas dan shale oil di Indonesia. Pencarian energi non-konvensional itu memerlukan eksplorasi secara tekun dan itu membutuhkan dukungan pemerintah baik regulasi, modal, maupun teknologi.

Kedua, wacana pencabutan subsidi BBM dalam waktu dua tahun harus benar-benar diperhatikan. Premium yang rencananya akan dihilangkan dari pasaran dan digantikan oleh pertamax bisa saja akan membuat Pertamina kehilangan pasar dalam negeri karena premium dihasilkan di Indonesia sedangkan pertamax diperoleh dari kilang luar negeri. Keinginan pembangunan pembangkit listrik 35.000 MW senilai US$ 45 miliar memanfaatkan pencabutan subsidi BBM yang diutarakan oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla bisa gagal total tanpa adanya antisipasi yang serius dari pemerintah soal pencabutan subsidi BBM.

Ketiga, dalam momentum harga minyak dunia yang sedang turun, pemerintah dapat mulai memerhatikan secara lebih perusahaan minyak dan gas nasional. Pertamina saat ini seolah berjalan sendirian tanpa adanya dukungan dari pemerintah. Menengok ke Brasil, saat pemerintah di sana berani membuat regulasi bahwa pengolahan minyak dalam negeri harus melibatkan Petrobras sebesar 30%. Hal itu menghasilkan alih teknologi dan kemudian berdampak positif dengan keberhasilan Petrobras mengolah minyak di laut dalam. Pemerintah Indonesia dapat memercayakan proyek dalam luar negeri yang prestisius kepada Pertamina dan mendukung eksplorasi Pertamina di luar negeri serta menciptakan iklim birokrasi yang sejuk bagi kemajuan Pertamina.

Harga minyak dunia ibarat yoyo yang akan terus naik turun sesuai mekanisme permintaan dan penawaran. Tentu di saat harga minyak dunia rendah dan berdampak pada harga BBM yang murah, masyarakat Indonesia dapat tersenyum serta bernapas lega, namun akan tiba suatu hari saat harga minyak dunia membumbung tinggi. Siapkah kita untuk menerima keadaan dan tetap bersyukur? Semoga kita tidak terlena dalam keadaan seperti saat ini, melainkan melakukan berbagai perbaikan, dari infrastruktur energi dan regulasi untuk mempersiapkan keadaan terburuk. Kita tentu tidak mau apabila senyum yang kita bisa hasilkan saat ini ketika menikmati murahnya harga BBM hanya tergantung pada mekanisme pasar yang tidak terduga.

Tentang Penulis:

Anton Kurniawan (12213018) adalah salah satu peserta magang divisi kajian strategis HMTM “PATRA” ITB 2014/2015

E-mail:
anton.kurniawan95@gmail.com