Pemanfaatan Panas Bumi Indonesia dan Permasalahan

Saat ini mayoritas pemenuhan energi di dunia masih bergantung pada energi fosil. Hal ini tentunya dapat menciptakan ketergantungan akan energi fosil. Padahal energi ini merupakan sumber energi yang tidak dapat diperbaharui. Dibutuhkan suatu sumber energi baru yang sustainable untuk menciptakan ketahanan energi di masa depan. Oleh karena itu munculah gagasan untuk mengembangkan sumber energi yang terbarukan. Energi terbarukan yang bermunculan antara lain energi yang berasal dari matahari, air, angin, ombak, pasang-surut dan panas bumi. Berbagai pengembangan energi terbarukan tentunya ditentukan dengan kondisi di sutu negara. Belanda mengembangkan sumber energi yang berasal dari angin karena di daerah mereka intensitas angin cukup tinggi untuk dapat dimanfaatkan. Selain itu negara-negara yang berada di daerah tropis turut mengembangkann energi dari matahari. Apabila kita melihat Indonesia, banyak energi terbarukan yang dapat dikembangkan di negara kita. Akan tetapi yang cukup menarik perhatian adalah energi panas bumi karena energi ini cukup efektif untuk dikonversi menjadi energi listrik.

Sumber energi panas bumi berasal dari internal heat bumi akibat peluruhan material radioaktif. Sistem reservoir panas bumi sendiri dikelompokan menjadi 4 macam yaitu hidrothermal, geopressured, hot dry rock dan magma. Sistem reservoir yang sekarang dikembangkan dan dimanfaatkan di dunia adalah sistem hidrothermal. Reservoir hydrothermal terjadi ketika suatu batuan reservoir yang berisi fluida panas (air, steam, gabungan aira dan steam) yang fasanya dipengaruhi oleh tekanan dan temperatur reservoir, serta masih mencakup taraf keekonomian dalam pemboran (kedalaman reservoir lebih kecil dari 4 km). Menurut Hochestein reservoir panas bumi dibedakan berdasarkan temperaturnya sebagai berikut :

Sistem panas bumi Temperatur
Sistem panas bumi enthalpi rendah              : < 125 oC
Sitem panas bumi enthalpi sedang                : 125 oC – 225 oC
Sistem panas bumi enthalpi tinggi                : > 225 oC

 

Reservoir panas bumi di Indonesia umumnya memiliki temperatur tinggi sehingga sangat potensial untuk dimanfaatkan. Berdasarkan UU No. 21 tahun 2014, pemanfaatan panas bumi digolongkan menjadi dua jenis yatu pemanfaatan langsung dan tidak langsung. Pemanfaatan langsung yang dimaksud yaitu untuk kegiatan wisata, agrobisnis, industri dan kegiatan lain yang menggunakan panas bumi untuk pemanfaatan langsung. Sedangkan pemanfaatan tidak langsung adalah untuk pembangkit tenaga listrik.

Pemanfaatan panas bumi untuk pembangkit tenaga listrik sudah dikembangkan sejak dulu tepatnya di Lardarello, Italia pada tahun 1904. Indonesia merupakan negara dengan potensi panas bumi terbesar di dunia yaitu sekitar 29 Gwe atau setara dengan 40% potensi dunia. Pengembangan PLTP di Indonesia dimulai di lapangan Kamojang yang berada di derah Garut. Lapangan ini mempunyai jenis reservoir dominasi uap dengan temperatur 235-245 oC sehingga sangat baik apabila dimanfaatkan untuk pembangkit listrik. Besarnya potensi panas bumi indonesia ini diakibatkan oleh letak geografis Indonesia yang berada pada ring of fire. Indonesia sendiri diimpit oleh tiga lempeng tektonik yaitu lempeng eurasia, lempeng indo-asutralia dan lempeng pasifik. Aktifitas tektonik ini mengakibatkan terbentuknya zona subduksi dibawah pulai Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan Sulawesi sehingga menciptakan sumber panas berupa magma yang merupakan cikal bakal gunung berapai. Magma ini kemudian ada yang mengalami intruksi dan terjebak membentuk sumber panas yang memanasi batuan reservoir. Lapangan-lapangan lain yang terdapat di Indonesia antara lain :

Untitled

Data diperoleh dari INAGA (Indoensia Association Geothermal) 2016

Permasalahan yang sering terjadi dalam pengembangan panas bumi adalah masalah perizinan usaha. Seperti yang kita ketahui, kebanyak lokasi lapangan panas bumi terletak di kawasan hutan lindung dan hutan konservasi. Menurut UU No 21 tahun 2014 pasal 23, apabila suatu perusahaan ingin melakukan pemanfaatan panas bumi secara tidak langsung (PLTP) maka harus mendapatkan Izin Panas Bumi yang diberikan oleh Menteri ESDM. Selain itu berdasarkan pasal 24, apabila pemanfaatan tidak langsung berada di kawasan hutan maka pemegang Izin Panas Bumi wajib mendapatkan :

  1. Izin peminjaman pengggunakan Kawasan Hutan produksi atau Kawasan Hutan Lindung, atau
  2. Izin untuk memanfaatkan hutan konservasi

Dari Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kehutanan. Selain itu, menurut pasal 25, dalam hal kegiatan pengusahaan panas bumi untuk pemanfaatan tidak langsung yang berada di wilayah konservasi di perairan, pemegang Izin Panas Bumi wajib untuk mendapatkan izin dari menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kelautan. Banyaknya perizinan yang harus diurus ini dapat memakan waktu yang cukup lama sehingga menghambat proses perizinan. Akibatnya para investor menjadi enggan untuk menanamkan investasinya di Indonesia.

Permasalahn lain yang sering muncul adalah masalah sosial di sekitar lapangan PLTP. Sering kali dalam pengelolaanya suatu perusahaan menyalahi beberapa aturan sehingga berpengaruh pada lingkungan di sekitar wilayah tersebut. Contoh masalahnya yaitu pada proyek PLTP Baturaden di lereng Gunung Selamet. Ratusan orang dari berbagai elemen masyarakat menggelar aksi menuntut dihentikannya proyek PLTP tersebut. Salah satu penyebab aksi ini adalah keruhnya Sungai Prukut Cilongok dan sejumlah anak sungainya, yang menyebabkan ratusan masyarakat kesulitan air bersih. Selain itu, pertanda lain bahwa alam telah terganggu adalah, hewan-hewan liar di selatan lereng Gunung Slamet lebih sering turun ke lahan pertanian warga sehingga merusak tanaman di lahan pertanian warga. Masalah lain yang cukup mendasar adalah tarif dari listrik yang dihasilkan dari PLTP masih relatif mahal dibandingkan dengan tarif pembangkit listrik dari bahan bakar fosil. Pemerintah perlu membuat iklim investasi yang kondusif serta membentuk pandangan bahwa pemanfaataan panas bumi dengan pengelolaan yang baik, akan menciptakan kemakmuran baik masyarakat sekitar maupun Indonesia.

 

 

Referensi :

Slide Kuliah Mbak Nenny

Makalah PKM GT ITB Dhita : Solusi Pengembangan Panas Bumi