MASIH RELEVANKAH SISTEM KM ITB ?

Semenjak kata teknologi menggema dibawa arus globalisasi, rasa nasionalisme dalam diri manusia mulai kehilangan tempatnya yang mapan. Semacam ada phobia masyarakat negeri ini untuk tetap menggenggam rasa nasionalisme apalagi mencoba menyebarkannya. Walaupun bangsa ini masih menjaga nilai-nilai luhurnya semacam nasionalisme dalam lisan, tetapi secara faktual agaknya kita harus mempertanyakan kembali, melihat realita bagaimana bangsa ini telah menjadi manusia transaksional yang hidup nyaman dalam kotak-kotak kecil mereka sendiri. Apalagi di tengah kerisauan dunia pendidikan menapak dengan tegak jalur sejarahnya sehingga selalu jatuh bangun dan labil dalam membangun sistem yang baik tanpa menyeret siswanya untuk jauh meninggalkan jati diri bangsa. Mahasiswa sebagai satu-satunya masa penggerak roda yang diakui di negeri ini, yang sempat menjadi momok bagi mafia penindas rakyat jelata, kini juga perlahan kehilangan taringnya.

World Class University, tantangan baru yang kini ramai dicanangkan oleh berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Tak ingin memutar memori kelam pada semrawutnya Rancangan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang kini entah bagaimana ujungnya, maka muncul lah indikator-indikator world class university yang digadang-gadang akan menjauhkan rancangan ini dari sebutan kebohongan publik. Diterimanya overseas student selayaknya penerimaan mahasiswa dalam negeri pada umumnya serta research based atau berbasis riset dianggap sebagai indikator yang pas takarannya untuk sebuah sajian world class university yang baik. Seolah mendukung sistem tersebut, Presiden Indonesia periode 2014-2019, Joko Widodo telah menggalakkan sistem baru pada pemerintahannya, dengan pengubahan dua Kementerian, yakni Kementerian Pendidikan, serta Kemenristek menjadi Kementerian Kebudayaan, Pendidikan Dasar, dan Menengah; serta Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Tak ingin kalah langkah, Institut Teknologi Bandung juga mulai mengusung visi dan misi menuju World Class University bersama nama Dr. Akhmaloka, Rektor ITB periode 2010-2014.

Perkembangan zaman dan tantangan bagi kemahasiswaan

Tantangan bagi suatu sistem kemahasiswaan apalagi seperti KM ITB yang indigenous milik ITB, adalah apakah sistem KM ITB masih relevan menghadapi gelombang globalisasi dan perubahan sistem pendidikan yang nyaris melintasi segala tapal batas suatu komunitas kemahasiswaan? Pertanyaan tentang relevansi sistem KM ITB dalam dunia pendidikan yang berubah dinamis, muncul dengan mulai mempertanyakan kemampuannya untuk mempertahankan posisi mahasiswa yang kini sebagai corong suara penghubung antara masyarakat dan pemerintah, maupun dalam tataran gerakan massal berbasis kesatuan mahasiswa yang mungkin akan berganti menjadi per satuan komunitas masa.

Kita menyaksikan, gelombang globalisasi yang berlangsung telah mengakibatkan terkikisnya sikap peduli dan kesatuan dalam diri mahasiswa untuk bergerak bersama, membuat sistem KM ITB itu seolah-olah menjadi tidak relevan lagi. Sehingga Muhammad Fatkhurrozi, seorang pengamat politik memandang bahwa menjadi mahasiswa pergerakan atau aktivis di era yang serba modern saat ini memang susah. Susah karena di satu sisi harus berhadapan dengan beban akademik dan susah karena iklim pergerakan yang sudah tidak lagi bergairah. Ditambah gelombang world class university yang digaungkan disisipi dengan pemaksaan globalisasi yang nyaris memangkas habis kemauan mahasiswa untuk bergerak bersama seakan membuat sistem KM-ITB makin tidak relevan untuk perkembangan zaman yang digulirkan. Globalisasi yang mengandung cacat bawaan dengan berbagai absurditas dan kontradiksi, memang berhasil mengggerus semangat berkemahasiswaan untuk beberapa kalangan.  Nah, hal inilah pula yang juga melanda kemahasiswaan ITB ketika diterpa arus gelombang globalisasi yang sering digunjing sebagai enemy namun tak pernah luput menyeret mahasiswa ke dalam pusarannya.

Menelisik kembali sejarah pergerakan mahasiswa di Indonesia, sulit rasanya untuk dilepaskan dari common enemy. Di tahun 1945 adalah penjajahan bangsa Jepang, 1966 gerakan kaum PKI, dan pada 1998 adalah rezim Soeharto. Ketika ada musuh nyata yang kasat mata, barulah mahasiswa bergerak. Pergerakan mahasiswa inilah yang sejatinya merupakan bentuk aktualisasi seorang manusia yang baru menginjak usia kepala dua dengan semangat serta potensi untuk melakukan sesuatu. Layaknya potensial listrik yang timbul karena perbedaan tegangan, potensi pergerakan mahasiswa juga timbul karena dipicu karena oleh suatu hal yang membuat mahasiswa tergerak nalurinya untuk mempertahankan diri bersama.

Pergerakan mahasiswa yang sekarang seolah lebih beragam karena berbagai faktor pemicu yang dikeluarkan dan dipaksakan oleh percepatan teknologi informasi, yang kerap kali mencemari pengertian pergerakan kemahasiswaan itu sendiri. Pergerakan mahasiswa pecinta lingkungan, mahasiswa riset, mahasiswa bakti sosial, hingga mahasiswa keprofesian telah ada dengan semua common enemy khas pergerakan mereka sendiri.

Namun era common enemy sudah berganti. Pergerakan mahasiswa secara masif dan bersama yang biasa mereka teriakkan sebagai mahasiswa aktivis sudah tidak lagi bisa beriringan dengan langkah cepat perkembangan zaman. Apalagi ketika pergerakan itu hanya dipaksakan dan mengalami disorientasi serta degradasi nilai, yang mana proses penanaman nilai murni dan semangat kebersamaan hanya menjadi sebuah rekayasa publik untuk menciptakan sebuah kesadaran palsu guna mengamankan status penggerak roda khas mahasiswa. Pergerakan bersama-sama secara massal jadinya cenderung tidak laku lagi menjadi common platform dalam dunia kemahasiswaan kini. Hal ini kemudian diperparah dengan arus pemikiran mahasiswa untuk berbuat sesuai kemampuan, realistis, dan praktis yang menggiring kearah desentralisasi kepada satuan-satuan kemahasiswaan yang lebih kecil skalanya dengan kebutuhan yang sama.

Masa Depan KM ITB

Secara teori, tidak ada yang salah dengan sistem kemahasiswaan berbasis massa yang masiv seperti KM ITB. Pemaknaan yang keliru selama ini adalah buah perkembangan zaman dan bukan sesuatu yang melekat, karena sistem KM ITB sendiri adalah sesuatu yang universal, yang pada dasarnya merupakan penjelmaan dari suara mahasiswa akan rasa hausnya untuk bergerak beriringan sejalan dengan peningkatan sense of belonging terhadap satu sama lain maupun kepada sistem kemahasiswaan yang ada itu sendiri. Meskipun pasca serangan bertubi-tubi globalisai terkadang membuat sebagian besar kelompok enggan untuk mengenali kembali atau memaknai kembali sistem kemahasiswaan KM ITB. Akan tetapi globalisasi dapat dijadikan sebagai batu loncatan guna mendorong KM ITB untuk mencari sistem baru yang lebih relevan. Terlebih apabila sistem pemerintahan Indonesia dan Institut Teknologi Bandung telah mengacu ke arah world class university, maka sudah sepatutnya KM ITB menyesuaikan langkah untuk mengayomi sistem baru yang ada nantinya.

Berpikir panjang ke depan tentang adaptasi yang tepat mengenai sistem kaderisasi, tidak hanya untuk para pemangku jabatan KM, namun kita sebagai mahasiswa yang teoritisnya merupakan anggota. Proses penurunan nilai-nilai baik khas kaderisasi tidak bisa ditanggalkan, namun tidak relevan juga untuk terus dibawa ke depan. Iklim pendidikan yang sudah nyata akan berubah, memerlukan sumbangsih ide dari para mahasiswa untuk mencari jalan lain tentang arah penurunan nilai-nilai baik ke depannya. Menjamin tujuan world class university semisal sistem yang dapat menjangkau hingga overseas student agar dapat menyalurkan potensinya dengan tetap menjaga nilai-nilai yang ada sebelumnya.

Tentang Penulis:

Andra Putri (12213078) adalah salah satu peserta magang divisi kajian strategis HMTM “PATRA” ITB 2014/2015

E-mail: putri.andra.m@gmail.com