KAJIAN PENCERDASAN PEMILU LEGISLATIF: MEMILIH DENGAN BIJAK, BUKAN CUMA SEKEDAR MEMILIH

Kajian Pencerdasan Pemilu Legislatif: Memilih Dengan Bijak, Bukan Cuma Sekedar Memilih

Pada kajian kali ini, divisi kajian strategis HMTM “PATRA” ITB membawakan materi tentang pencerdasan pemilu legislatif. Kajian diikuti oleh sekitar 20 orang massa PATRA baik angkatan 2012, 2011, maupun 2010. Kajian diawali dengan penjelasan materi dari divisi kajian strategis yang dibawakan oleh Alvin Andrian (PATRA 11065).

Bahasan pertama yang dibawakan adalah tentang mengapa banyak terjadi golput, disebutkan ada 3 hal utama yang menyebabkan banyak terjadinya golput yaitu:

  1. Tingkat ketidakpercayaan yang tinggi pada sistem politik serta komunitas politik di Indonesia
  2. Kurangnya pengetahuan mengenai pemilu
  3. Pandangan bahwa “memilih siapapun tidak ada bedanya”

Hal inilah yang kemudian menjadi latar belakang dari kajian massa kali ini yaitu untuk meningkatkan pengetahuan tentang pemilu dan memberikan gambaran mengenai apa dan siapa yang sebenarnya harus dipilih dalam pemilu kali ini.

Pada bagian berikutnya dijelaskan bagaimana sistem pemilu yang ada di Indonesia dan apa saja hal yang baru pada pemilu kali ini. Dengan demikian massa menjadi lebih tahu mengenai apa yang akan dihadapi dalam pemilu nanti.

Materi dilanjutkan dengan penjelasan lembaga-lembaga legislatif yang ada di Indonesia yaitu: MPR, DPR, DPRD, DPD. Hal ini dilakukan mengingat masih banyak diantara kita yang belum tahu tugas-tugas pokok dan kewenangan dari lembaga legislatif yang nanti akan dipilih. Pertanyaan-pertanyaan seperti apa perbedaan DPR dan DPD, DPRD dan DPR, banyak dimunculkan pada sesi ini. Antusias massa mulai terangkat dengan munculnya banyak pertanyaan dan beberapa massa yang tadinya belum tahu mengenai lembaga legislatif dan fungsinya juga menjadi tercerdaskan.

Pada sesi berikutnya dijelaskan mengenai metode kita untuk menentukan calon yang nantinya akan kita pilih. Tujuannya adalah agar pada saat kita memilih pada pemilu nanti, kita bukan sekedar memilih tanpa tahu sebenarnya siapa yang kita pilih dan bagaimana kita tahu siapa yang kita pilih. Hal ini dilakukan mengingat banyaknya jumlah calon legislatif yang dapat dipilih saat proses pemilu.

Metode yang ditawarkan antara lain:

  1. Melalui CV dari masing-masing caleg melalui website KPU
  2. Menggunakan rekomendasi dari LSM
  3. Menggunakan ulasan media mengenai calon-calon yang bertarung untuk dapil tertentu
  4. Memilih partai
  5. Memilih caleg berdasarkan calon presiden 

Kelima metode ini dijelaskan berikut dengan kelebihan dan kekurangan dari setiap metode. Penggunaan metode itu sendiri diserahkan kepada peserta kajian untuk memilihnya sesuai dengan pertimbangan masing-masing, tidak ada preferensi khusus dari metode-metode yang dipaparkan.

Setelah itu kajian dilanjutkan dengan sesi diskusi. Pada kajian kali ini, tujuan yang ingin dicapai adalah meningkatkan pengetahuan dan kesadaran massa PATRA mengenai pemilu sehingga metode diskusi yang dilakukan adalah pertanyaan yang dilemparkan oleh massa dan didiskusikan kembali bersama dengan massa dengan Julda Naufal (PATRA 11078) sebagai moderator.

Suasana Kajian

Pertanyaan pertama dilemparkan oleh Gladys (PATRA 11037) tentang bagaimana kita memilih partai atau calon berdasarkan ideologi yang dibawa dan ideologi apa yang sebenarnya cocok untuk Indonesia ini.  Pertanyaan ini kemudian dijawab oleh Zevni (PATRA 11013) dan Andy (PATRA 11032) yang menyatakan bahwa kita sebaiknya tidak serta merta memilih suatu partai atau calon berdasarkan ideologinya karena ideologi itu masih bersifat abstrak dan berbentuk pemikiran sehingga yang harus dilihat adalah praktek dari ideologi itu sendiri. Safrul kemudian berpendapat juga bahwa ideologi sebenarnya cukup penting untuk diperhatikan karena ideologi politik adalah dasar dari arah gerak politik itu sendiri. Pendapat berikutnya muncul dari Zaky (PATRA 11009) yang menyatakan bahwa demokrasi adalah ideologi yang sudah cukup baik untuk diaplikasikan di Indonesia, namun dalam praktiknya demokrasi malah jadi terlalu tidak terkontrol dan seringnya kebablasan sehingga demokrasi ini sebaiknya harus lebih terkontrol dengan patokan-patokan yang jelas. Andre (PATRA 12006) juga sependapat dengan Zaky mengenai demokrasi yang terkontrol.

Pertanyaan kedua muncul dari Andre yang mempertanyakan penggunaan metode ketiga yaitu melihat track record calon dari media mengingat beberapa media yang dikontrol oleh partai sehingga objektivitasnya dipertanyakan. Pertanyaan ini dijawab oleh Alvin sebagai pemateri bahwa sebenarnya media tidak hanya dipegang oleh satu orang, terdapat unsur-unsur independen juga dalam suatu media khususnya media daerah. Namun kita juga perlu untuk memilah-milah media mana yang dapat kita gunakan untuk menjadi referensi. Zevni kemudian bertanya apabila ada pelanggaran (dari media mengenai pemberitaan yang salah) bagaimana cara melaporkannya. Pemateri saat itu belum bisa menjawab dengan detil tapi sebenarnya hal tersebut dapat dilaporkan ke beberapa lembaga baik independen (seperti AJI – Asosiasi Jurnalis Indonesia) maupun pemerintah (seperti KPI).

Diskusi kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan dari Sunny (PATRA 11026) yang bertanya sebenarnya apa dampak dari golput dan Derie (PATRA 10044) tentang sebenarnya apa itu golput dan golput itu boleh atau tidak. Dampak dari golput diambil dari pendapat Syahrial Loetan seorang pengamat pembangunan nasional adalah pertama program pembangunan yang disiapkan oleh Presiden terpilih berpotensi tidak didukung oleh mayoritas penduduk. Salah satu alasannya adalah karena penduduk yang tidak menggunakan hak suaranya tidak merasa menjadi pendukung dari program tersebut. Oleh sebab itu, potensi gagalnya pencapaian tujuan pembangunan menjadi cukup besar, dan ini sangat berbahaya bagi suatu negara yang umur demokrasinya masih muda.

Kedua, kelompok yang tidak menggunakan hak suara pada saat pemilu berpotensi menjadi kekuatan yang dapat melakukan “sabotase” atas program-program yang telah disusun oleh pemerintah yang dikomandoi oleh Presiden terpilih. Resiko ini dapat berupa “pembelokan” arah pembangunan, maupun berupa hambatan yang dapat memperlambat laju pembangunan.

Ketiga, kelompok yang tidak menggunakan hak suara, secara politis merasa berada diluar dari sistem politik yang dibangun, sehingga mereka dapat menganggap dirinya tidak bermasalah jika tidak memberikan dukungan kepada Pemerintah yang dipimpin oleh Presiden terpilih.

Golput sebenarnya adalah gerakan yang dilakukan oleh masyarakat pada zaman orde baru  yang dilakukan dengan tidak memilih pada saat pemilu sebagai bentuk protes terhadap keberjalanan pemerintah yang terlalu dominan dan pemilu yang tidak bersih. Dalam perkembangannya golput diasosiasikan dengan tidak memilih apapun pada saat pemilu. Golput adalah suara yang tidak sah serta suara yang tidak masuk pada saat pemilu. Atas ketiga dampak yang disebutkan tadi golput sangat tidak disarankan, pemateri menyarankan apabila merasa tidak cocok dengan semua calon maka pilihlah yang paling sedikit memiliki keburukan.

Diskusi kemudian berlanjut dengan mendiskusikan bagaimana peran mahasiswa untuk memperbaiki bangsa ini, keluar dari konteks pemilu itu sendiri namun karena ketertarikan massa akan hal tersebut, topik tersebut diambil sebagai topik untuk menutup kajian.

Kajian berjalan dengan baik dan massa juga sangat tertarik dengan topik ini, beberapa pihak menyayangkan kurangnya topik-topik khas pemilu yang dibahas seperti swing voters tetapi secara keseluruhan tujuan dari kajian kali ini tercapai.

Terimakasih disampaikan kepada Julda ketua departemen eksternal sebagai moderator, Gladys ketua divisi heksa sebagai notulen, dan seluruh massa PATRA yang hadir pada saat kajian.