Kajian Massa Kastrat: Pemilihan Rektor ITB Periode 2014-2019

Kajian Massa Kastrat: Pemilihan Rektor ITB Periode 2014-2019

Pada tanggal 11 September 2014, Divisi Kajian Strategis HMTM “PATRA” ITB mengadakan kajian massa mengenai pemilihan rektor ITB periode 2014-2019. Sebelum mengadakan kajian kali ini, dilakukan terlebih dahulu survey untuk mengetahui topik mana yang diminati oleh massa PATRA. Terdapat tiga pilihan topik yaitu: 1. ASEAN Economic Community, 2. Pemilihan Rektor ITB 2014-2019, 3. Polemik Revisi UU MD3. Ketiga topik ini mewakili tiga ruang lingkup kajian yaitu isu internasional, isu nasional, dan isu kampus. Dari ketiga topik tersebut, lebih dari 45% massa memilih topik kedua yaitu tentang pemilihan rektor sehingga ditentukan bahwa kajian massa kali ini akan membahas hal tersebut.


Untuk mempertajam kualitas kajian massa kali ini, kastrat mengundang MWA-WM untuk memberikan materi mengenai pemilihan rektor kali ini. Perwakilan MWA-WM yang hadir untuk memberikan materi kali ini adalah Aulia Maharani Akbar selaku Ketua Dewan MWA-WM dan Arwin Nurrahman selaku Satgas Pemilihan Rektor Dewan MWA-WM. Kajian massa kali ini dimoderatori oleh Syauqi Alawi dari Kastrat PATRA.


Kajian dimulai dengan pembicara melakukan perkenalan struktur dan proker dari MWA-WM ITB 2014-2015. Posisi MWA-WM pada struktur KM-ITB adalah memiliki fungsi koordinasi dengan kabinet dan dikontrol oleh kongres sedangkan posisi MWA-WM di ITB adalah berada pada MWA yang melakukan fungsi kontrol dan koordinasi dengan senat akademik dan rektor. Hal yang berbeda yang ingin dicapai oleh MWA-WM pada periode kali ini adalah membuat blueprint untuk melakukan evaluasi selama satu periode MWA-WM dan memberikan arahan umum untuk MWA-WM periode berikutnya, hal ini dimaksudkan agar MWA-WM pada periode berikutnya tahu apa saja kajian-kajian yang telah dilakukan dan sikap yang diambil oleh MWA-WM sebelumnya untuk menjadi referensi bersikap berikutnya.


Kemudian dibuka sesi pertanyaan dari massa PATRA yang hadir. Pertanyaan pertama adalah tentang apa perbedaan dari advokasi dan MWA-WM. Fungsi advokasi adalah mengumpulkan data dan melakukan kajian dari kebutuhan mahasiswa ITB untuk kemudian memberikannya pada MWA-WM yang nantinya akan membawa data dan hasil kajian tersebut ke MWA. Pada periode sebelumnya, tugas advokasi juga dilakukan oleh MWA-WM sehingga pada tugas terjadi ini tumpang tindih antara MWA-WM dan kementerian advokasi KM. Pada periode ini, MWA-WM akan lebih fokus pada tugasnya yaitu membawa data-data yang diperoleh dari mahasiswa yang telah dikumpulkan dan dikaji oleh advokasi dan kongres untuk dibawa ke MWA.

Pertanyaan berikutnya adalah mengenai pengaruh MWA-WM pada MWA/rektorat dan apakah mahasiswa dapat mengajukan arahan dan tuntutan pada MWA/rektorat. Secara fungsional, MWA-WM sendiri sebenarnya merupakan unit dari MWA yang telah dijelaskan sebelumnya dapat mempengaruhi keputusan senat akademik ataupun rektorat, namun posisi MWA-WM dapat melakukan kesepakatan-kesepakatan dengan unit lain di tubuh MWA untuk memperkuat posisi kebutuhan mahasiswa.
Kemudian kajian dilanjutkan dengan sesi talkshow yang dilakukan oleh moderator dengan MWA-WM tentang pemilihan rektor.


Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh moderator dalam talkshow kali ini merupakan pertanyaan yang dihimpun dari kuisioner yang diberikan kepada massa.
MWA-WM menjelaskan bahwa tahap pemilihan rektor kali ini sudah sampai proses pencarian calon nominee, dalam periode ini, mahasiswa dapat turut berperan dengan memasukkan calon nominee yang menurut mahasiswa memiliki kompetensi untuk menjadi rektor ITB.


Calon ini diajukan secara individu, sehingga individu yang bersangkutan harus bertanggung jawab untuk membujuk calon yang diajukan untuk menyetujui serta mengisi form-form yang diperlukan untuk pendaftaran sebagai rektor.
Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana tingkat keberhasilan rektor sebelumnya. MWA-WM menjawab bahwa rektor sebenarnya tidak memiliki proker namun rektor memiliki gagasan untuk mencapai tujuan-tujuan yang diberikan oleh MWA kepada rektor. Sebenarnya gagasan ini ada diberikan oleh bapak Akhmaloka pada tahun 2009, namun data ini hilang sehingga tidak dapat dilakukan evaluasi terhadap kinerja rektor ITB periode ini.
Kemudian pertanyaan berikutnya adalah terkait kontrol dari fungsi searching committee. Dijelaskan bahwa searching committee mengacu pada pedoman yang telah diberikan oleh MWA untuk calon rektor yang diinginkan namun kontrol yang dapat dilakukan kemudian adalah saat proses seleksi calon nominee menjadi nominee yaitu dilakukan seleksi administrasi dan kredibilitas dari calon nominee. Pada seleksi kredibilitas nanti, mahasiswa dan masyarakat umum dapat memberikan feedback kepada para calon nominee mengenai gagasan atau kepribadian dari calon nominee.
Pertanyaan berikutnya adalah tentang apa konsiderasi MWA membuka pemilihan rektor ke masyarakat non-civitas ITB. MWA-WM menjelaskan bahwa ITB sedang menuju research university dan salah satu klausul untuk mencapai hal tersebut adalah membuka pemilihan rektor kepada masyarakat umum seperti universitas-universitas di luar negeri. Hal ini dimaksudkan bahwa tidak hanya civitas ITB yang memiliki potensi untuk memajukan ITB namun juga tidak menutup kemungkinan bahwa rektor yang memiliki potensi juga bisa jadi berasal dari non-ITB.
Kemudian adalah tentang pengaruh politik dalam proses pemilihan rektor kali ini. Menurut MWA-WM, pengaruh politik akan selalu ada, namun yang menjadi concern adalah mahasiswa itu sendiri harus berpartisipasi dalam proses ini sehingga mahasiswa dapat bersama-sama mengajukan apa sebenarnya keinginan mahasiswa itu bukan nantinya berusaha untuk menggolkan salah satu calon. Mahasiswa nantinya harus berpolitik dan memperjuangkan keinginannya.


Kesimpulan pada kajian massa kali ini adalah proses pemilihan rektor sudah dimulai dan untuk setiap proses pemilihan yang paling penting adalah partisipasi dari kelompok yang dipengaruhi oleh pemiihan tersebut. Mahasiswa, sebagai salah satu pihak yang paling dipengaruhi dari proses pemilihan ini, harus berpartisipasi secara aktif dan kritis pada hal tersebut agar nantinya mahasiswa dapat menentukan apa yang sebenarnya menjadi harapan dari mahasiswa bukannya hanya ikut terseret arus dan malah gontok-gontokan untuk menggolkan salah satu calon.

Akhir kata, Divisi Kajian Strategis HMTM “PATRA” ITB berterimakasih pertama untuk seluruh massa yang telah hadir dalam kajian massa kastrat kali ini dan berpartisipasi aktif, kemudian kepada pembicara yaitu Ketua MWA-WM Aulia Maharani Akbar dan Satgas Pemilihan Rektor MWA-WM Arwin Nurrahman yang telah bersedia menyempatkan waktunya dan memberikan materi kepada massa PATRA, juga kepada Ketua Departemen Eksternal Julda dan Ketua Himpunan Fajar yang memberikan supportnya sehingga acara ini dapat terlaksana.