Review Kajian Massa Divisi Kajian Energi HMTM Patra “Perlukah Pembangunan Kilang Baru?”

Rabu 24 September 2014 lalu, Selasar depan secretariat HMTM Patra dipadati 42 Massanya. Adalah animo untuk mencari suatu solusi bersama atas polemik lama dalam bidang keenergian yang membuat massa dari “himpunan energy” ini betah untuk berkumpul siang-siang.
Adapun topic yang diangkat dalam kajian massa perdana itu adalah pertanyaan besar terkait investasi yang mungkin perlu dipertimbangkan negeri ini, “Perlukah pembangunan kilang baru ?”.
Perlu disadari bahwa berdasar alur BBM dalam negeri saat ini, baru 56% kapasitas kilang nasional yang termanfaatkan untuk mengolah minyak mentah negeri, sisanya terpaksa diekspor dulu ke kilang Singapura karena spesifikasi kilang dalam negeri tidak lagi mencukupi. Hal ini karena produksi minyak ringan yang semakin menurun, tergantikan dengan minyak berat yang membutuhkan spesifikasi lebih tinggi dalam pengolahannya. Mengingat kebutuhan bbm dalam negeri yang semakin meningkat, timbul desakan untuk melakukan investasi dalam peningkatan spesifikasi kilang. Investasi ini diharapkan dapat mengurangi biaya impor BBM (impor crude lebih murah 1 USD/bbl ketimbang BBM) serta mengolah kondensat yang dulu tidak bisa dilakukan. Selain itu, diharapkan pembangunan kilang ini juga dapat membuka lapangan kerja baru bagi tenaga ahli di Indonesia. Adanya kecurigaan terhadap kinerja Petral (pertamina energy trading Ltd.) juga semakin menambah alasan untuk membangun kilang didalam negeri.
Namun,di sisi lain perlu diingat bahwa investasi kilang bukan perkara mudah. Biaya investasi yang tinggi (s.d. 70 T rupiah) waktu pembangunan yang tidak sebentar, pertimbangan teknis yang kompleks serta margin keuntungan yang kecil membuat investasi kilang sulit dilakukan Adapun salah satu solusi yang diusulkan adalah dengan membuat iklim investasi kilang yang menarik seperti dengan pemberian tax holiday bagi Investor. Upaya ini hanya bisa dilakukan oleh pemerintah, dan harus dilakukan jika pemerintah memang serius untuk membangun kilang karena tak mungkin meluangkan dana APBN untuk investasi ini.
Pada akhir diskusi, dirasakan bahwa pembangunan kilang saat ini masih penting dan perlu dilakukan. Pemerintah harus segera mengambil langkah strategis dan bijak. Agar nantinya pembangunan kilang menuai hasil yang menguntungkan sembari mengawal diversifikasi energy. (bma)

 

KESIMPULAN

    Kebutuhan BBM terus meningkat, sangat kontradiktif dengan penurunan produksi minyak mentah.
    Baru 56% kapasitas kilang nasional yang bisa mengolah minyak mentah negeri karena spefisikasi kilang yang tidak sesuai. Sisanya diekspor dahulu ke kilang Singapura, sehingga menambah biaya.
    Kebutuhan BBM semakin meningkat. Walaupun ada diversifikasi energi, kita masih belum bisa lepas sepenuhnya dari energi minyak. Untuk itulah pembangunan kilang di Indonesia diperlukan.
    Namun ada banyak hambatan dalam investasi pembangunan kilang ini, dari segi biaya, waktu, teknis yang kompleks, margin keuntungan kecil, serta kompleksnya masalah birokrasi dan perizinan lahan.
    Dibutuhkan investor untuk membangun kilang tersebut. Harus ada koordinasi yang baik antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk menciptakan iklim investasi yang baik.