Natuna, harta karun yang terpendam

By : Rakha Utomo (PATRA 14069)

Merosotnya harga minyak dalam satu setengah tahun terakhir ini menyebabkan banyak perusahaan yang bergerak dibidang energi, khususnya migas terus mencari cara untuk tetap survive di kondisi yang sangat sulit ini. Berbagai hal sudah dilakukan oleh perusahaan untuk selamat dari kondisi yang ada, secara garis besar perusahan terus melakukan efisiensi semaksimal mungkin. Selain melakukan efisiensi, beberapa cara yang dilakukan untuk selamat dari harga minyak yang sangat rendah ini diantaranya adalah mengurangi pekerja atau biasa disebut dengan pemecatan atau layoff, pengurangan gaji karyawan, dan yang tidak kalah penting adalah perusahaan-perusahaan energi tersebut mulai memaksimalkan energi lain diluar minyak, seperti panas bumi, dan gas bumi.

Berbicara tentangi gas bumi, Indonesia memiliki wilayah dengan cadangan gas bumi terbesar di asia tenggara, yaitu terletak di kepulauan Natuna. Kepulauan Natuna ini terletak diantara pulau kalimantan dan pulau sumatera, lebih tepatnya terletak di provinsi kepulauan riau. Kepulauan Natuna merupakan kepulauan paling utara dari negara republik indonesia. Lapangan Natuna ini terdiri dari beberapa blok, dan sebagian dari sumber daya alam di kepulauan Natuna sudah dan sedang diproduksi. Namun terdapat satu blok yang belum diproduksi sampai saat ini dan juga memiliki cadangan terbesar yaitu blok D-alpha yang terletak di east Natuna dan diperkirakan memiliki cadangan gas sebesar 222 Trilliun cubic feet (TCF)

Mengetahui belum dilakukan eksploitasi blok tersebut dan mengingat begitu besanya potensi wilayah tersebut untuk memenuhi kebutuhan energi negara dan juga sumber pendapatan negara, munculah pertanyaan mengapa gas di wilayah tersebut tidak segera diproduksi. Padahal D-alpha east Natuna ini sudah dieksplorasi oleh agip pada tahun 1973 yang menemukan struktur lapisan dan berpotensi mengandung gas, yang kemudian diserahkan kembali kepada pemerintah Indonesia. Pada kurun waktu 1984–1994 berbagai interpretasi data uji seismik dan studi geologi pun sudah dilakukan, dan diperoleh perkiraan volume gas disuatu tempat atau Initial Gas in Place (IGIP) sebesar 222 TCF(trillion cubic feet) dengan kandungan gas CO2 sekitar 70%. Melihat lini masa progress dan proses tersebut, seharusnya lapangan D-alpha east Natuna ini sudah mulai dieksploitasi, tetapi mengapa blok ini belum juga mulai produksi sampai tahun 2016 ini?

Tantangan

Pada dasarnya ada beberapa tantangan atau permasalahan yang ada, sehingga hal tersebut belum dilaksanakan sampai saat ini. Pertama adalah mengenai aspek geopolitik, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya blok D-alpha east Natuna ini terletak di kepulauan Natuna dan merupakan kepulauan paling utara di Indonesia. Wilayah ini masuk kedalam kawasan Zona Ekonomi Ekslklusif (ZEE). Di dalam ZEE ini, Indonesia mempunya kesempatan pertama dalam memanfaatkan sumber daya akam yang terdapat di laut dan dibawahnya. Tetapi batas yang sudah jelas ini tampaknya tidak cukup untuk mengehentikan Cina untuk tidak masuk kewilayah maritim kepulauan Natuna tanpa izin. Terbukti beberapa kali kapal Cina memasukki wilayah kepulauan Natuna tanpa izin dan mengambil kekayaan bahari berupa ikan yang ada di lautan tersebut. Dengan bersikeras pada teorinya yaitu nine dash line, Cina kerap kali mengakui wilayah-wilayah di laut Cina selatan yang sebetulnya bukan wilayah mereka. Hal seperti itu bukan saja terjadi kepada Indonesia tetapi juga terhadap beberapa negara ASEAN. Hal tersebut kerap menimbulkan konflik antara negara Cina dan negara-negara di ASEAN. Dikhawatirkan tidak hanya kekayaan ikan yang diambil oleh Cina nantinya, tetapi perlahan Cina akan mengakuisisi wilayah tersebut dan mengambil sumber daya alam yang ada di wiayah tersebut berupa minyak dan gas bumi.

Kedua adalah kadar karbondioksida (CO2) yang sangat tinggi di Blok D-alpha east Natuna ini. Blok D-alpha east Natuna yang memiliki cadangan sekitar 222 triliun cubic feet (TCF) diperkirakan 70%nya merupakan CO2 atau sekitar 150 TCF yang merupakan kumpulan CO2 terbesar di dunia. Sebagai gambaran apabila gas Natuna diambil dengan cara konvensional, maka CO2 sebanyak 150 TCF tersebut akan terlepas ke atmosfer dan akan menyebabkan emisi tahunan indonesia meningkat sebesar 50 persen, dan dalam 30 tahun total CO2 dari ladang ini dapat menaikkan konsentrasi CO2 dunia lebih dari satu persen. Oleh karena itu diperlukan peralatan dengan teknologi tinggi yang mampu mendaur ulang sekaligus memanfaatkan buangan CO2 untuk keperluan komersial.

Yang ketiga adalah tantangan finansial. Dari informasi yang ada konon biaya pemboran dan penyelesaian satu sumur di lapangan east Natuna bisa mencapai US$ 70 juta. Dan untuk mengembangkan lapangan east Natuna diperkirakan mencapai US$ 52 miliar. Hal ini sangat jauh bila kita bandingkan dengan proyek gas di lapangan tangguh yang memiliki anggaran biaya sekitar US 6.5 miliar. Oleh karena itu lapangan east Natuna merupakan proyek yang sangat padat modal dan memiliki resiko sangat tinggi.

Solusi

Tantangan diatas bukan tidak bisa diatasi, bahkan seiring dengan berjalannya waktu munculah solusi-solusi untuk menjawab tantangan tersebut. Pertama-tama mengenai kontrak, rincian kontrak untuk blok D-alpha ini adalah 35% dimiliki oleh Pertamina, 35% dimiliki oleh Exxonmobil dan sisanya dimiliki oleh PT. Total E&P Indonesie dan PTT thailand masing-masing 15 persen. Pemerintah memberikan kontrak D-alpha kepada exxonmobil sebesar 35% tentu bukan tanpa dasar. Dengan dijalinnya kerja sama dengan exxonmobil diduga pemerintah juga mengharapkan keuntungan berupa bantuan pertahanan wilayah, mengingat exxonmobil merupakan perusahan milik negara adikuasa amerika, maka Indonesia terlindungi secara tidak langsung dari Cina dengan adanya bantuan dari perusahaan tersebut. Amerika yang merupakan negara adikuasa diharapkan dapat melindungi Indonesia dari konflik dan akuisisi wilayah Natuna oleh nergara Cina.

Mengenai banyaknya CO2 yang terkandung pada blok east Natuna juga sejauh ini pemerintah ingin melakukan metode CCS (carbon capture storage). Secara umum metode ini adalah metode untuk memindahkan CO2 dari suatu tempat ketempat lainnya secara aman. Metode meliputi langkah-langkah berikut :

Langkah pertama (penangkap karbondioksida)

CO2 ditangkap dari penghasil CO2 yang besar misalnya pembangkit listrik berbahan bakar fosil. Teknik-teknik penangkapan karbondioksida terbagi atas (Lily Gray & Wilfreed Maas, 2015):

a. Oil and gas capture

b. Post combustion capture

c. Pre combustion capture

d. Oxyfuel capture

e. Industrial processes capture

Langkah kedua (transportasi karbondioksida)

Transport CO2 (pemindahan CO2). Setelah ditangkap, milyaran ton emisi CO2 dikompresi menjadi cair agar mudah diangkut ke tempat penyimpanan yang sesuai. Untuk penyimpanan di tambang migas offshore. CO2 diangkut melalui jalur pipa offshore, menggunakan kapal atau kombinasi keduanya.

Langkah ketiga (penyimpanan karbondioksida)

Tempat penyimpanan paling praktis untuk menyimpan emisi karbon dalam jumlah banyak biasanya reservoir minyak atau gas yang sudah tua. Professor Geologi Universitas Edinburgh, Stuart Haszeldine mengungkapkan bahwa sangat banyak tempat penyimpanan potensial di bumi ini. Yang diperlukan adalah reservoir berpori dan berlapis yang ditutup batuan lumpur dan garam, kedua bahan yang mudah dicari di dunia. Saline aquifers merupakan batuan berpori berisi air formasi. Lapisan ini dapat menjadi tempat untuk menyimpan CO2. Studi Geologi menunjukkan bahwa terdapat banyak lapisan saline aquifers yang berpotensi menampung semua emisi C02 di Eropa sampai abad berikutnya. Secara umum, penyimpanan karbondioksida terbagi atas:

a. Unmineable coal beds/enhance coal bed methane production

b. Depleted oil and gas field

Langkah keempat (monitoring karbondioksida)

Memantau dan memverifikasi jumlah CO2 yang tersimpan sangatlah penting jika penyimpanan CO2 digunakan untuk memenuhi komitmen nasional dan atau internasional sebagai dasar perdagangan emisi. Setiap tempat penyimpanan CO2 harus diperiksa untuk mengetahui ada tidaknya kebocoran CO2 dari tempat penyimpanan.

Dengan menyempurnakan metode CCS tersebut (baik dengan cara mengadaptasi dan meniru metode CCS yang telah dilakukan di suatu lapangan atau dengan cara lain) diharapkan masalah mengenai kandungan CO2 dapat teratasi. Dan untuk mengatasi tantangan padatnya modal dan resiko, Indonesia telah menggandeng perusahaan migas lainnya selain Pertamina yaitu ExxonMobil, PT. Total E&P Indonesie dan PTT Thailand. Diharapkan dari kontrak kerja sama yang dilakukan akan mengurangi beban biaya modal dan juga resiko yang akan ditanggun meskipun keuntungannya juga pasti akan berkurang. Dengan solusi yang ada dan pengkajian lebih lanjur, diharapkan blok D-alpha east natuna ini dapat dimanfaatkan secara optimal guna memenuhi kebutuhan bangsa Indonesia.