Go Invest, Go Explore

Investasi hulu migas mendesak dilakukan, terkait Indonesia harus bersaing kompetitif secara global untuk mendapatkan investasi dan penemuan cadangan baru yang akan menjaga stabilitas produksi nasional.

Penurunan Investasi Migas Nasional.
Penurunan harga komoditas minyak dan gas bumi (migas) yang pada pertengahan 2017 stabil di sekitar harga US $ 50 per barel membuat investasi di dunia migas Indonesia lesu. Hampir seluruh kontraktor migas di Indonesia memangkas belanja modal dan kegiatan mereka.

Laporan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) menyebutkan terjadinya penurunan sangat signifikan sepanjang 2016 silang. Hanya dalam waktu setahun, investasi sektor migas anjlok hingga 27 persen. Pada 2016, investasinya mencapai 11,15 miliar dollar AS, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 15,34 miliar dolar AS.

Dengan menurunnya angka investasi pada 2016, tentu membuat efek yang terasa, pendapatan negara turun. Terkait pendapatan dalam sektor migas merupakan pendapatan negara terbesar kedua setelah pajak.

Penurunan investasi pada kegiatan usaha hulu migas berdampak negatif pada industri penunjang, sehingga kegiatan produksi industri tersebut menurun hingga 30 %, berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi di wilayah kerja dan menyebabkan terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Calon sarjana di sektor pertambangan pun susah mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasinya.

 

Faktor Penyebab Turunnya Investasi Migas
Namun, penurunan investasi hulu migas di Indonesia bukan semata – mata karena faktor harga minyak dunia yang sedang jatuh. Ada faktor lain yang membuat kondisi ini terjadi. Iklim investasi yang tidak menarik adalah major factor yang membuat perusahaan migas malas berusaha di Indonesia.

Mulai dari susahnya perizinan, banyak pungutan yang terjadi di daerah, tumpeng tindih peraturan, hingga pemberian insentif yang kalah bersaing penyebab minimnya kegiatan investasi. Hal ini yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah Indonesia dalam menjawab tantangan hulu migas di Indonesia.

Akan tetapi, jika kita lebih membuka prespective thinking, keadaan seperti ini sebenarnya tidak dialami di Indonesia saja. Negara lain, seperti negara asal, perusahaan migas asing juga mengalami kesulitan dan juga mengurangi investasi. Kelebihan produksi migas dunia meruapakan salah satu faktor turunnya harga minyak dunia. Supply and demand yang tidak seimbang terjadi sejak tahun 2015. Pasokan banjir melebihi permintaan.

 

Solusi Tantangan Investasi
Menjawab tantangan dunia ini, pemerintah harus lebih kompetitif dan efisien dalam menarik investor untuk menanamkan modalnya di kegiatan usaha hulu migas Indonesia. Kebijakan baru yang harus di dukung adalah dengan membuka data wilayah kerja migas yang diyakini akan menarik investasi.

Wakil Mentri ESDM Arcandra Tahar mengatakan, saat ini pemerintah menggunakan strategi membuka data wilayah kerja migas untuk menggaet penanam modal, hal ini diyakini dapat menarik minat untuk mencari migas di Indonesia.

Hal yang bisa mempengaruhi iklim investasi adalah aksi pemerintah dalam mengakomodasi kebutuhan investor. Dengan begitu, calon investor dapat dengan mudah mendapatkan akses data blok migas yang menjadi incaran-nya.
Rumit dan lamanya perizinan juga seharusnya bisa menjadi celah pemerintah dalam membenahi minimnya investor yang ingin menanam modal. Dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 29 Tahun 2017 tertuang bahwa terdapat pemangkasan izin yang awalnya 104 izin menjadi 6 izin saja dan waktu perizinan dipercepat menjadi 20 hari. Namun, kebijakan ini harus tetap dikontrol dan di follow up oleh pemerintah itu sendiri. Perlu adanya evaluasi kinerja dari Permen ESDM Nomor 29 Tahun 2017 di akhir tahun sebagai bentuk pertanggungjawaban pemerintah terhadap negara.

 

Pentingnya Eksplorasi

Berbicara mengenai investasi kegiatan usaha hulu migas Indonesia, akan berlanjut pada suatu kegiatan eksplorasi. Dalam menjaga stabilitas kegiatan produksi migas nasional, penemuan cadangan baru perlu digalakkan. Konsumsi energi yang tidak sebandng dengan ketersediaan sumber energi menempatkan Indonesia dalam krisis energi. Kebutuhan migas nasional pada 2016 sebesar 1,6 juta barel per hari dan produksi hanya 820 ribu barel per hari. Krisis energi yang dialami Indonesia saat ini, merupakan imbas tidak adanya penemuan cadangan migas baru.

Pemerintah harus menacari solusi agar Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) terus tertarik untuk menanamkan modalnya di sector eksplorasi. Ditambah lagi, harga minyak yang sedang jatuh pada 3 tahun terakhir. Pentingnya peningkatan kegiatan eksplorasi akan berdampak positif bagi prospek pengembangan sektor hulu migas di masa mendatang, serta menjaga ketersediaan energi untuk generasi mendatang.

Idealnya untuk satu setara barel yang diproduksikan segera tergantikan oleh satu setara barel migas yang ditemukan. Perbandingan cadangan baru dan cadangan yang diproduksikan disebut dengan Reserve Replacement Ratio (RRR). Grafik dibawah merupakan angka RRR untuk minyak dan gas bumi dari tahun 2007 s.d. 2013.

Go Invest, Go Explore

Eksplorasi Wilayah Indonesia Timur

Kecenderungan eksplorasi yang telah dilakukan Indonesia adalah di bagian Indonesia Barat dan Tengah. Sekitar 91 % eksplorasi dilakukan di wilayah barat dan tengah. Maka dari itu, cadangan Indonesia ke depan berada di wilayah Indonesia Timur. Terdapat tujuh cekungan yang belum tereksplorasi (frontier basin) yang terletak di Indonesia Timur, yaitu Flores & Tukang Besi Basin; Buru, West Buru & South Sula Basin; North Halmahera, East, South & North Obi Basin, Misool, Seram, South Seram, W. Weber, Weber & Tanimbar Basin; Waipongan Basin; Akimegah Basin, dan Sahun Basin.

Banyaknya cekungan yang belum tereksplorasi di wilayah Indonesia Timur merupakan suatu asset bagi para investor untuk menanamkan modal di Indonesia Timur. Cekungan di Indonesia Timur rata-rata berada di wilayah laut dalam (kedalaman lebih dari 1000 m). Biaya untuk menyewa rig jenis semi-submersible sebesar $ 300.000 / hari dan biaya pengeboran satu sumur sebesar $ 100 juta. Dikarenakan besarnya biaya eksplorasi, KKKS seharusnya mempersiapkan plan atau strategi yang efektif dan efisien, agar kedepannya tidak mengalami kerugian.

 

Tantangan dan Solusi

Tentunya dalam mengembangkan lapangan migas di wilayah Indonesia Timur tidaklah mudah. Terkait wilayah Indonesia Timur cenderung laut dalam dan biaya eksplorasinya mahal. Perlu adanya insentif pemerintah untuk KKKS agar mampu mengelola kegaitan eksplorasi di wilayah Indonesia Timur. Solusi yang bisa ditawarkan adalah menghilangkan tax bagi kontraktor yang beroperasi di laut dalam seperti kebijakan di Malaysia. Kedua terkait investasi, pemerintah bisa perlahan mengubah iklim investasi saat ini, dengan cara aksi pemerintah dalam mengakomodasi kebutuhan investor, sehingga para calon investor mudah mendapatkan akses data blok migas yang menjadi incarannya. Kebijakan ini harus selalu di follow up dan perlu evaluasi setiap tahunnya. Terakhir terkait, masalah infrastruktur yang masih minim. Minimnya infrastruktur membuat ongkos eksplorasi membengkak. Pemerintah harus bisa meningkatkan infrastruktur di wilayah Indonesia Timur sehingga investor juga akan tertarik.

Minyak dan gas bumi merupakan energi dominan pada era kini. Multiplier effect bisa didapatkan melalui migas kepada negara, dengan pendapatan terbesar kedua setelah perpajakan. Ketahanan dan stabilitas produksi nasional harus dijaga dan ditingkatkan. Salah satu caranya melalui peningkatan investasi dan penemuan cadangan baru khususnya di wilayah Indonesia Timur. Memang tidak mudah dalam melakukan semua ini secara instan. Tetapi percayalah, jika dilakukan secara bertahap dan kontinu, hasil tidak akan menghianati usaha.

 

Sumber :